Rabu, Januari 23, 2019

Mamaku Menyukaimu, Sang Sederhana

Bismillah.

      Uli, itulah nama panggilan saat ini di kalangan keluarga dan rekan-rekanku. Saat-saat seperti ini, aku ingin bercerita tentang pilihan mamaku yang sangat tidak ku bayangkan. Mulai dari kisah remajaku hingga saat ini, ingin ku sharing ke kalian semua. Berharap kisah ini bisa menginspirasi dan bisa diambil hikmahnya.

      Aku berasal dari keluarga sederhana, tinggal di sebuah perkampungan namun masih ramai dengan masyarakat yang rata-rata masih keluarga denganku, memiliki 5 saudara dan aku anak ke-empat juga merupakan anak pertama perempuan. Mama dan Bapakku cukup memanjakanku, tetapi tidak dengan saudara-saudaraku (sedikit complicated). Aku mempunyai adik perempuan yang baik dan lucu, yang sangat kami sayangi dan dialah anak terakhir dari kami semua. Namun sayangnya adik kecilku tidak bisa melihat Bapakku karena saat itu beliau sudah meninggal dunia, hanya Mama yang bisa kami andalkan di keluarga kami.

      Saat remaja, aku menghabiskan waktu di rumah kakakku (di Kota). Kakakku memiliki 3 anak yang sudah ditinggal oleh Ibunya karena meninggal. Aku menjalani masa SMA di Kota tersebut sembari mengasuh anak-anak kakakku. Aku suka dengan berbagai jenis tren saat itu, mulai dari rambut hingga pakaian. Kakakku memfasilitasi segala keperluanku dengan syarat aku tidak boleh pacaran,dan aku meng-iya-kannya. Namun, dengan fisik yang mungkin biasa saja, ternyata bisa menarik hati beberapa laki-laki. Aku bahkan sempat berpacaran dengan beberapa orang tanpa diketahui oleh kakakku.
Setelah lulus SMA, aku melanjutkan sekolah ke salah satu pendidikan kesehatan. Namun, aku sepertinya kurang memiliki passion di situ dan akhirnya memutuskan untuk berhenti. Semua itu tidak mematahkan semangatku untuk mencari kerjaan lain. Aku bahkan hijrah ke Kendari untuk bekerja. Sempat bekerja dari toko satu ke toko lainnya. Hingga kakakku yang saat itu adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil) di salah satu instansi, mengajakku pulang untuk mengikuti tes CPNS. Aku pun mengikuti tahap demi tahap di setiap tesnya. Tidak jarang aku berdebat dengan kakakku karena aku ingin menikah, dan belum diizinkan. Hingga suatu saat sempat frustasi dan tidak ingin melanjutkan CPNS. Namun, mengingat masa depanku harus diperjuangkan, aku berusaha hingga bisa lulus dan melupakan urusan menikah.

      Alhamdulillah aku diterima menjadi PNS, dan di sinilah mamaku lebih overprotektif terhadapku. Beliau bahkan turun ke Kota untuk menjagaku. Di kala beliau bersamaku, aku tidak bisa berpacaran sembunyi-sembunyi lagi. Saudara-saudaraku menginginkan agar aku bisa menikah, namun belum ada hilal tentang jodohku. Satu per satu laki-laki datang menghampiri Mamaku untuk mendekatiku, dengan beragam cara, bahkan dari kalangan yang masih kelurga denganku. Waw! Ada yang membawa pakaian, makanan, sembako dan lain-lain, namun belum ada satu pun yang mamaku suka. Rata-rata mereka yang datang ke mamaku adalah orang kaya dan dari keluarga berada, tapi entah kenapa masih belum menarik hati mamaku.

      Aku berusaha mencari laki-laki pilihanku sendiri yang semoga mamaku juga suka. Lalu, salah satu sahabatku cewek (dia sudah nikah namun belum punya anak) yang juga masih sepupuku, memperkenalkan temannya (salah satu rekan guru di sekolah tempat sepupuku bekerja). Aku pun iseng-iseng ingin lebih kenal. Namanya Adi, seorang guru olahraga yang tampangnya rupawan, namun ia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Umurnya beda setahun denganku, dia juga sosok yang sederhana, periang, perhatian dan banyak wanita yang mendekatinya, huft. Aku belum berani mengenalkannya ke keluargaku, karena berbagai alasan, mulai dari alasan broken home hingga keluarganya bukan dari keluarga bangsawan. Mengenalnya tidak terlalu lama, Pak Adi ingin mengenal keluargaku, aku pun terkejut dan agak kuatir. Dia kekeuh ingin bertemu mamaku, dan aku menceritakan kekuatiranku, takutnya dia akan ditolak karena alasan ini dan itu. Tetapi, yang ku liat sosok Adi ini adalah seorang yang tidak menyerah. Aku belum kenal dia seutuhnya, aku bahkan kuatir jika nanti nikah dengannya akan seperti apa kelurga kami, aku kuatir dia tidak punya tabungan untuk kami ke depan, aku kuatir aku kuatir....

      Akhirnya aku memberanikan diri bercerita ke Mama kalau ada seseorang yang akan ku kenalkan ke beliau. Mamaku seperti biasa, beliau mau mengenal langsung. Dan ternyata benar, Adi datang ke rumah kakakku di Kota. Dia tidak membawa sesuatu apapun ke rumah, dengan kesederhanaan dia memperkenalkan diri, mulai dari pekerjaan hingga keluarganya. Dia disambut hangat oleh Mama, karena sosoknya yang periang dan humoris, namun kakakku sepertinya kurang sreg dengan Adi mungkin karena bukan berasal dari keluarga bangsawan. Tapi, mamaku tidak menunjukkan raut penolakan terhadap Adi. Mamaku meminta Adi datang ke rumah lagi, mungkin mamaku senang dengan Adi, semoga saja ya.

      Singkat cerita, Adi ingin melamarku, aku kaget. Mamaku pun sudah setuju. Adi membawa keluarganya (Ibu dan adik laki-lakinya) ke rumah untuk melamarku. Aku kuatir dia akan dipersulit, dan ternyata benar. Adi diterima oleh keluargaku dengan syarat mahar yang melebihi normal, alasannya karena Adi melamar seorang gadis bangsawan. Sangat sedih. Adi pun menyanggupinya, aku kuatir dia tidak punya tabungan, namun ternyata di luar dugaan tabungan Adi sangat banyak Alhamdulillah, makanya aku senang dia menyanggupi mahar tersebut.

      Adi menceritakan pengalaman bekerja dari satu daerah hingga daerah lain. Dia sosok pekerja keras dari ia kecil karena dia tidak mendapatkan perhatian dari seorang Bapak hingga mengharuskannya untuk bekerja demi keluarga. Alhamdulillah sosok sederhana yang bukan dari kelurga bangsawan ini, telah menikah denganku. Di awal pernikahan, aku masih tinggl di rumah mertua di kampung, bahkan hingga anak ketiga lahir masih tetap di kampung. Hingga akhirnya suami saya meminta untuk hijrah ke Raha dan kami sedikit demi sedikit membangun rumah hingga anak-anak kami sudah bisa bersekolah di Kota. Pernikahan kami dikaruniai enam orang anak yang Alhamdulillah menjadi sumber jatuh bangun hingga kebahagiaan kami saat ini. Walaupun banyak cobaan di keluarga kami, tapi kami tetap bahagia dengan kesederhanaan saat ini. Semoga anak-anak kami menjadi penolong kami di akhirat kelak. Aamiin.

Jazakumullah khoirđź’™

Jumat, Januari 04, 2019

Gagal Tetap Tersenyum, Lulus Pasti Menangis

Bismillah. (Harusnya di-post sejak Agustus lalu-_-)
     Malam ini, lagi melow untuk mempersembahkan sebuah tulisan yang semoga menginspirasi untuk saya (jika nanti gagal) dan juga untuk teman-teman yang membaca. I want to tell you about my young sister, her name is Erni. Kali ini dia mengajarkan kepada kami bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditangisi, tapi disyukuri. Sejak lama ingin menulis dan berbagi ke teman-teman tentang karakter luar biasa dari adikku ini, tapi mumpung momennya pas (i mean habis pengumuman), bolehlah saya manfaatkan. Oke, lets talk about failure and win.

      Erni, anak ke-5 dari 6 bersaudara. Usianya masih 17 tahun, bentar lagi otw 18 tahun. Adik kami yang sangat berharap bisa membahagiakan orang tua, di dunia dan di akhirat, adik yang mengikuti tarbiyah sejak SMP sampai akhirnya memutuskan untuk memakai jilbab besar, adik yang dibilang mirip denganku, adik yang mudah kecewa dan tertutup, adik yang ketawanya paling besar sesuai dengan badannya yang tinggi dan besar, adik yang suka palakin kakaknya, dan pastinya adik yang selalu bangga dengan kesabarannya. Akhir-akhir ini dia berjuang untuk masuk ke Universitas (terkesan biasa sih, cuma ada hal positif yang belum tentu dimiliki orang lain), daftar sana-sini untuk tetap kuliah. Belum lagi tuntutan dari orang tua yang mewajibkan kuliah, yang membuatnya makin tertekan tapi tetap optimis dengan ketetapan Allah SWT. Selalu mencoba apapun hingga akhirnya gagal, mencoba lagi kemudian gagal, begitu seterusnya dan Alhamdulillah bisa lulus.

      Untuk tes pertama (SNMPTN), dia berusaha memilih jurusan yang sesuai dengan passion-nya saat ini. Memilih Universitas Halu Oleo dan Universitas Hasanuddin, tentunya dengan usaha dan doa serta rasa optimis bisa lulus di salah satu jurusan yang ia pilih. Sambil menunggu pengumuman SNMPTN, Erni sempat ke Kendari untuk liburan, saya sangat memanjakannya, pokoknya berharap dia betul-betul merasa 'Oiya, saya punya kakak yang peduli dan sayang', hmm Alhamdulillah. Dia selalu mengingatkan kami 'Tolong doakan saya agar lulus SNMPTN, sempatkan di sujud kalian'. Sembari menunggu pengumuman, Erni juga sempat mendaftarkan diri ke STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab) di Makassar tapi masih via online. Tidak lupa pula, kami mengupayakan proses lobbying ke bebarapa 'link', melakukan pendekatan dengan iming-iming gratifikasi dan tentunya berharap melalui 'link-link' ini adikku akan diupayakan untuk lulus. Lantas setelah menunggu, bagaimana kabar pengumuman? Saat itu ditentukan pengumuman...... Dan yang membuka website tersebut pertama kali adalah saya. Dengan rasa degdegan dan penuh harap, saya berdoa agar hasilnya baik. Namun takdir berkata lain, qadarullah adik saya Erni belum rejeki untuk lulus SNMPTN saat itu. Entah bagaimana saya akan menyampaikan ke Erni dan ke orang tua. Saat itu saya masih di kantor, dan langsung cepat pulang untuk sekedar memeluk adikku yang awalnya saya berpikir ini akan menjadi bad news. Setiba di kosan, saya bertemu Erni dan menyampaikannya. Dia tersenyum, dan cuma bilang 'Tidak apa-apa, masih ada kesempatan lain, saya percaya takdir Allah yang paling terbaik. Tidak boleh berharap ke manusia'. Tidak ada kesedihan yang diperlihatkan, hanya senyuman dan pastinya ketawa penuh candaan. Justru saat maghrib, selesai sholat, saya menangis, air mata saya langsung jatuh, bukan karena cengeng. Bagaimana bisa seorang adik yang berharap masuk kuliah justru senang dengan kegagalan, sedangkan diriku yang 2013 lulus SNMPTN justru tidak mengambilnya. Ingin rasanya ku berikan jurusan yang saya luluskan dahulu untuk adikku Erni, tapi mana bisa (?) Bahkan ketika saya menawarkan untuk jalan dan jajan, Erni hanya berkata 'Tidak usah habiskan uang, mending uangnya untuk saya hehe'. Dan akhirnya kami masih berharap untuk mencoba ke SBMPTN. Saat itu Erni melaksanakan tes SBM di dekat kantorku, saya memintanya ke kantor pada saat jam istirahat. Setelah tes, dia dan teman-temannya main ke kantor untuk makan siang. Sudah ku siapkan makan siang buat mereka dan mereka actually pasti kelelahan.

      Sambil menunggu pengumuman SBMPTN, adikku masih menikmati masa-masa belajar di Kendari untuk persiapan tes di STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab) di Makassar. Hingga saatnya dia berangkat ke Makassar bersama Mama, saat itu saya-lah yang memesankan tiket pesawat. Dalam hati, saya berharap akan terus memesankan tiket pesawat hingga adikku lulus di STIBA tersebut. Erni tidak sendiri, ia bersama teman SMA saya yang bernama Nani (Masyaallah sudah hijrah bahkan bercadar) yang akan tes bersama-sama. Dan di Makassar, mereka menginap di rumah Kak Dayat, a lot of thanks to Kak Dayat yang sudah memfasilitasi adikku, Mama, Nani dan Ibu Nani. Saya berpesan kepada Nani untuk mengajarkan adikku materi-materi yang sekiranya akan muncul nanti, karena saya tahu kalau Erni masih kurang persiapan. Erni dan Nani, they're feeling excited ketika bisa berkunjung ke STIBA sebelum hari tes. Hingga akhirnya mereka tes, tidak henti kami memberikan semangat, dukungan dan doa karena STIBA adalah kampus impian adik saya. Kami berharap tesnya akan lancar, namun as a bad news dari adik saya kalau dia sepertinya akan failed tapi dia sudah berusaha sebaik mungkin. Dengan penuh keceriaan, Erni meyakinkan kami kalau dia akan berhasil. Banyak cerita saat di Makassar: rempongnya Ibu-ibu, bingung cari oleh-oleh hingga cerita saat adikku naik pesawat. Setiba di Kendari, Erni sangat happy (but i know she was unhappy). Hingga akhirnya saat pengumuman STIBA, namanya tidak muncul sedangkan nama Nani muncul di daftar yang telah lulus, barakallah Nani. Adik saya masih bisa tersenyum, i know what she felt, like someone's down. Dia menguatkan dirinya sendiri, akan terus berjuang sampai suatu saat bisa tes dan menjadi mahasiswi STIBA. Dan dia juga berkata, dia masih muda diantara saingan yang lain, dan tak tanggung-tanggung saingannya dari luar negeri pun ada. Juga berkata kalau dia banyak kekurangan saat tes (hafalan, dan hal-hal lain).

      Melepas kegagalan di STIBA, Erni masih berharap di pengumuman SBMPTN, namun lagi-lagi namanya tak muncul (gagal). Saya sempat menangis dan merasa kasihan dengan adik saya ini, tapi dia begitu ceria. Her pressure was so big, terutama dari orang tua. Saya pun menawarkan beberapa kampus swasta di Kendari, namun ia tidak tertarik. Erni bahkan ingin menganggur sambil mempersiapkan diri untuk tes STIBA tahun berikutnya, namun orang tua saya tidak setuju. Anak-anaknya harus kuliah, jadi Mama sibuk menguruskan persiapan tes Seleksi Khusus (tes terakhir) di Universitas Halu Oleo. Dan di situ peran kami sebagai kakak sangat dibutuhkan.

      Banyak isu mengenai seleksi khusus ini, mulai dari kuota yang terbatas hingga biaya kuliah yang mahal. Mama sampai meminta bantuan keluarga yang kami harapkan bisa menjadi tangan penghubung (link) di kelulusan adik saya. Setelah semua selesai diurus, Erni memanfaatkan waktu untuk Tarbiyah (sempat beberapa kali ikut bersama halaqoh saya). Dan anak ini juga mengambil alternatif lain dengan mendaftarkan diri ke salah satu universitas kesehatan swasta di Kendari yaitu STIKES Mandala Waluya. Beberapa hari setelah mendaftar di MW, tiba-lah pengumuman Seleksi Khusus. Erni sudah siap dengan segala takdir Allah, dia bahkan tidak keluar kamar. Hingga selesai sholat Isya, dia masih di kamar, sedangkan kami kakak-kakaknya sibuk menunggu pengumuman. Dan Masyaallah nama Erni muncul sebagai mahasiswi PGSD. Kami semua memeluk Erni yang baru selesai dzikir setelah sholat Isya. Air matanya pun jatuh sambil tersenyum bahkan tertawa. Alhamdulillah akhirnya Erni bisa kuliah dan menjadi mahasiswi UHO.

      Kabar bahagia ini tentu kami sampaikan ke orang tua di Raha. Saya sangat kaget mendengar percakapan Erni dan Bapak yang penuh haru.
Erni :
Bapak :👨
️: Opaa saya kasi habis terus uangnya Bapak, saya daftar A, B, C, D belum lulus.
👨: Tidak apa2, nak.
️: Opaa sa minta maaf.
👨: Tidak apa2 anakku. Bapak senang anakku lulus PGSD, ikuti jejak Bapak.
️: Maafkan saya sudah merepotkan Bapak dan Mama, tapi tidak pernah lulus. Maafkan saya Paa, Maa.
👨: Anakku sudah lulus, jangan menangis e, anakku cantik harus bisa bagus di kuliah. Jangan pikirkan karena tidak lulus, bukan salahmu, Nak. Bapak dan Mama tetap usahakan yang terbaik.
️: Makasih Bapak, Mama. Maafkan saya.
👨: Aman, Nak. Baik-baik di situ e.
️: Boleh toh saya pake cadar?
👨: Boleh, boleh, Nak. Silahkan, tiada yang larang anakku.
Our Mirror Wefie

My Precious Erni

      Heran deh sama anak ini, kalau tidak lulus malah jadi strong (no sad), tapi setelah lulus yaa malah minta maaf plus menangis. Wah.... Erni mengajarkan kami bahwa gagal bukan sesuatu yang harus ditangisi, karena Allah menyiapkan kado yang spesial di balik itu semua. Barakallah adikku, selamat menjalankan perkuliahan, juga berbagai kesibukan (kebaikan) yang akan kamu jalani. Bergaullah dengan kedewasaanmu yang luar biasa. Dan juga sayangi orang-orang yang menyayangimu. Semoga Allah memudahkan langkahmu selama menuntut ilmu. We love you, Erni/Suerni/Atipeta/Busbel
© WAFER | Blogger Template by Enny Law