Bismillah. (Harusnya di-post sejak Agustus lalu-_-)
Malam ini,
lagi melow untuk mempersembahkan sebuah tulisan yang semoga menginspirasi untuk
saya (jika nanti gagal) dan juga untuk teman-teman yang membaca. I want to tell you about my young sister,
her name is Erni. Kali ini dia mengajarkan kepada kami bahwa kegagalan
bukan sesuatu yang harus ditangisi, tapi disyukuri. Sejak lama ingin menulis
dan berbagi ke teman-teman tentang karakter luar biasa dari adikku ini, tapi
mumpung momennya pas (i mean habis
pengumuman), bolehlah saya manfaatkan. Oke, lets
talk about failure and win.
Erni, anak
ke-5 dari 6 bersaudara. Usianya masih 17 tahun, bentar lagi otw 18 tahun. Adik
kami yang sangat berharap bisa membahagiakan orang tua, di dunia dan di
akhirat, adik yang mengikuti tarbiyah sejak SMP sampai akhirnya memutuskan
untuk memakai jilbab besar, adik yang dibilang mirip denganku, adik yang mudah
kecewa dan tertutup, adik yang ketawanya paling besar sesuai dengan badannya
yang tinggi dan besar, adik yang suka palakin kakaknya, dan pastinya adik yang
selalu bangga dengan kesabarannya. Akhir-akhir ini dia berjuang untuk masuk ke
Universitas (terkesan biasa sih, cuma
ada hal positif yang belum tentu dimiliki orang lain), daftar sana-sini untuk
tetap kuliah. Belum lagi tuntutan dari orang tua yang mewajibkan kuliah, yang
membuatnya makin tertekan tapi tetap optimis
dengan ketetapan Allah SWT. Selalu mencoba apapun hingga akhirnya gagal,
mencoba lagi kemudian gagal, begitu seterusnya dan Alhamdulillah bisa lulus.
Untuk tes
pertama (SNMPTN), dia berusaha memilih jurusan yang sesuai dengan passion-nya saat ini. Memilih Universitas
Halu Oleo dan Universitas Hasanuddin, tentunya dengan usaha dan doa serta rasa
optimis bisa lulus di salah satu jurusan yang ia pilih. Sambil menunggu
pengumuman SNMPTN, Erni sempat ke Kendari untuk liburan, saya sangat memanjakannya, pokoknya berharap dia betul-betul merasa 'Oiya, saya
punya kakak yang peduli dan sayang', hmm
Alhamdulillah. Dia selalu mengingatkan kami 'Tolong doakan saya agar lulus SNMPTN, sempatkan di sujud
kalian'. Sembari menunggu pengumuman, Erni juga sempat mendaftarkan diri ke
STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab) di Makassar tapi masih via online. Tidak lupa pula, kami
mengupayakan proses lobbying ke
bebarapa 'link', melakukan pendekatan
dengan iming-iming gratifikasi dan tentunya berharap melalui 'link-link' ini adikku akan diupayakan
untuk lulus. Lantas setelah menunggu, bagaimana kabar pengumuman? Saat itu
ditentukan pengumuman...... Dan yang membuka website tersebut pertama kali adalah saya. Dengan rasa degdegan dan penuh harap, saya berdoa
agar hasilnya baik. Namun takdir berkata lain, qadarullah adik saya Erni belum rejeki untuk lulus SNMPTN saat itu.
Entah bagaimana saya akan menyampaikan ke Erni dan ke orang tua. Saat itu saya
masih di kantor, dan langsung cepat pulang untuk sekedar memeluk adikku yang
awalnya saya berpikir ini akan menjadi bad
news. Setiba di kosan, saya bertemu Erni dan menyampaikannya. Dia
tersenyum, dan cuma bilang 'Tidak apa-apa, masih ada kesempatan lain, saya
percaya takdir Allah yang paling terbaik. Tidak boleh berharap ke manusia'.
Tidak ada kesedihan yang diperlihatkan, hanya senyuman dan pastinya ketawa
penuh candaan. Justru saat maghrib, selesai sholat, saya menangis, air mata
saya langsung jatuh, bukan karena cengeng. Bagaimana bisa seorang adik yang
berharap masuk kuliah justru senang dengan kegagalan, sedangkan diriku yang
2013 lulus SNMPTN justru tidak mengambilnya. Ingin rasanya ku berikan jurusan
yang saya luluskan dahulu untuk adikku Erni, tapi mana bisa (?) Bahkan ketika
saya menawarkan untuk jalan dan jajan, Erni hanya berkata 'Tidak usah habiskan
uang, mending uangnya untuk saya hehe'.
Dan akhirnya kami masih berharap untuk mencoba ke SBMPTN. Saat itu Erni
melaksanakan tes SBM di dekat kantorku, saya memintanya ke kantor
pada saat jam istirahat. Setelah tes, dia
dan teman-temannya main ke kantor untuk makan siang. Sudah ku siapkan makan
siang buat mereka dan mereka actually
pasti kelelahan.
Sambil
menunggu pengumuman SBMPTN, adikku masih menikmati masa-masa belajar di Kendari
untuk persiapan tes di STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab) di Makassar.
Hingga saatnya dia berangkat ke Makassar bersama Mama, saat itu saya-lah yang memesankan tiket pesawat. Dalam
hati, saya berharap akan terus memesankan tiket pesawat hingga adikku lulus di
STIBA tersebut. Erni tidak sendiri, ia bersama teman SMA saya yang bernama Nani
(Masyaallah sudah hijrah bahkan
bercadar) yang akan tes bersama-sama. Dan di Makassar, mereka menginap di rumah
Kak Dayat, a lot of thanks to Kak Dayat
yang sudah memfasilitasi adikku, Mama, Nani dan Ibu Nani. Saya berpesan kepada
Nani untuk mengajarkan adikku materi-materi yang sekiranya akan muncul nanti,
karena saya tahu kalau Erni masih kurang persiapan. Erni dan Nani, they're feeling excited ketika bisa
berkunjung ke STIBA sebelum hari tes. Hingga akhirnya mereka tes, tidak henti
kami memberikan semangat, dukungan dan doa karena STIBA adalah kampus impian
adik saya. Kami berharap tesnya akan lancar, namun as a bad news dari adik saya kalau dia sepertinya akan failed tapi dia sudah berusaha sebaik
mungkin. Dengan penuh keceriaan, Erni meyakinkan kami kalau dia akan berhasil.
Banyak cerita saat di Makassar: rempongnya Ibu-ibu, bingung cari oleh-oleh
hingga cerita saat adikku naik pesawat. Setiba di Kendari, Erni sangat happy (but i know she was unhappy).
Hingga akhirnya saat pengumuman STIBA, namanya tidak muncul sedangkan nama Nani
muncul di daftar yang telah lulus, barakallah
Nani. Adik saya masih
bisa tersenyum, i know what she felt,
like someone's down. Dia menguatkan dirinya sendiri, akan terus berjuang sampai suatu saat bisa tes
dan menjadi mahasiswi STIBA. Dan dia juga berkata, dia masih muda diantara
saingan yang lain, dan tak tanggung-tanggung saingannya dari luar negeri pun
ada. Juga berkata kalau dia banyak kekurangan saat tes (hafalan, dan hal-hal
lain).
Melepas
kegagalan di STIBA, Erni masih berharap di pengumuman SBMPTN, namun lagi-lagi
namanya tak muncul (gagal). Saya sempat menangis dan merasa kasihan dengan adik
saya ini, tapi dia begitu ceria. Her
pressure was so big, terutama dari orang tua. Saya pun menawarkan beberapa
kampus swasta di Kendari, namun ia tidak tertarik. Erni bahkan ingin menganggur
sambil mempersiapkan diri untuk tes STIBA tahun berikutnya, namun orang tua
saya tidak setuju. Anak-anaknya harus kuliah, jadi Mama sibuk menguruskan
persiapan tes Seleksi Khusus (tes terakhir) di Universitas Halu Oleo. Dan di
situ peran kami sebagai kakak sangat dibutuhkan.
Banyak isu
mengenai seleksi khusus ini, mulai dari kuota yang terbatas hingga biaya kuliah
yang mahal. Mama sampai meminta bantuan keluarga yang kami harapkan bisa
menjadi tangan penghubung (link)
di kelulusan adik saya.
Setelah semua selesai diurus, Erni memanfaatkan waktu untuk Tarbiyah (sempat
beberapa kali ikut bersama halaqoh saya). Dan anak ini juga mengambil
alternatif lain dengan mendaftarkan diri ke salah satu universitas kesehatan
swasta di Kendari yaitu STIKES Mandala Waluya. Beberapa hari setelah mendaftar
di MW, tiba-lah
pengumuman Seleksi Khusus. Erni sudah siap dengan segala takdir Allah, dia bahkan tidak keluar
kamar. Hingga selesai sholat Isya, dia masih di kamar, sedangkan kami
kakak-kakaknya sibuk menunggu pengumuman. Dan Masyaallah nama Erni muncul sebagai mahasiswi PGSD. Kami semua
memeluk Erni yang baru selesai dzikir setelah sholat Isya. Air matanya pun jatuh
sambil tersenyum bahkan tertawa. Alhamdulillah
akhirnya Erni bisa kuliah dan menjadi mahasiswi UHO.
Kabar
bahagia ini tentu kami sampaikan ke orang tua di Raha. Saya sangat kaget
mendengar percakapan Erni dan Bapak yang penuh haru.
Erni : ❤️
Bapak :👨
❤️: Opaa saya kasi habis terus uangnya Bapak,
saya daftar A, B, C,
D belum lulus.
👨: Tidak apa2, nak.
❤️: Opaa sa minta maaf.
👨: Tidak apa2 anakku. Bapak senang
anakku lulus PGSD, ikuti jejak Bapak.
❤️: Maafkan saya sudah merepotkan
Bapak dan Mama, tapi tidak pernah lulus. Maafkan saya Paa, Maa.
👨: Anakku sudah lulus, jangan menangis
e, anakku cantik harus bisa bagus di kuliah. Jangan pikirkan karena tidak
lulus, bukan salahmu, Nak. Bapak dan Mama tetap usahakan yang terbaik.
❤️: Makasih Bapak, Mama. Maafkan saya.
👨: Aman, Nak. Baik-baik di situ e.
❤️: Boleh toh saya pake cadar?
👨: Boleh, boleh, Nak. Silahkan, tiada
yang larang anakku.
 |
| Our Mirror Wefie |
 |
| My Precious Erni |
Heran deh sama anak ini, kalau tidak lulus
malah jadi strong (no sad), tapi setelah lulus yaa malah
minta maaf plus menangis. Wah....
Erni mengajarkan kami bahwa gagal bukan sesuatu yang harus ditangisi, karena
Allah menyiapkan kado yang spesial di balik itu semua. Barakallah adikku, selamat menjalankan perkuliahan, juga berbagai
kesibukan (kebaikan) yang akan kamu jalani. Bergaullah dengan kedewasaanmu
yang luar biasa. Dan juga sayangi orang-orang yang menyayangimu. Semoga Allah
memudahkan langkahmu selama menuntut ilmu. We
love you, Erni/Suerni/Atipeta/Busbel❤️