Selasa, Mei 15, 2018

#SelfReminder DONTs and DOs For Ramadhan


Bismillah. Sambil menunggu hasil sidang Isbat penetapan 1 Ramadhan, i want to share beberapa hal tentang apa yang harus dilakukan/diusahakan dan ditinggalkan/dihindari selama bulan Ramadhan. Kita semua tentu paham betul keutamaan bulan Ramadhan ini sangaaaat banyak, salah satunya limpahan pahala yang buaanyaaakk jika kita beribadah dan berbuat kebaikan. Pun jangan lupa ada ganjaran yang buanyaaakk juga kalau kita berbuat dosa. Di sini, aku memposisikan diri sebagai manusia biasa yang haus akan pahala dan berusaha menghindari dosa, bukan untuk menggurui atau menasehati karena sejatinya aku pun masih nakal. Tapi gak ada salahnya kita mencoba kan? Oke, lets see what the DONTs and DOs. 
Bahas DONTs dulu ya, karena sepertinya banyak hal yang harus kita hindari atau seenggaknya kita kurangi aktivitasnya nih.
✘ Ghibah.
Yuph, hindari membicarakan orang lain terutama mengenai keburukan, karena bisa jadi semuanya adalah bagian dari fitnah. Banyak yang suka makan ini dan makan itu tapi mereka lebih senang makan 'bangkai' saudaranya sendiri, melalui ghibah ini.
✘ Mata Jelalatan.
Bisa jadi saat kita berangkat kantor/kuliah/sekolah, kita menemukan hal aneh yang bisa membawa pikiran negatif dan merusak hati kita. Misal: lihat cowok ganteng or cewek cantik, lihat yang pacaran, lihat barang bagus, lihat makanan, lihat/nonton gosip dan lain-lain yang bisa mengundang syahwat atau menimbulkan negative thinking.
✘ Komunikasi yang tidak baik.
Jika sebelum Ramadhan, kita biasa menyebutkan atau mengucapkan kata-kata kasar dan tidak baik, entah itu ke teman, saudara dan siapapun itu, maka sebaiknya kita hindari dan kurangi. Kebanyang kan kalau semisal kita ucapkan kata kasar sekali saja bisa bernilai puluhan hingga ratusan kali dosa :(
✘ Bertengkar.
Terkadang aku bertikai dengan beberapa orang, entah itu rekan kerja atau saudara sendiri. Kali ini aku akan berusaha menghindari itu, jangan memulai keributan atau terpancing dengan pertengkaran. Langsung cari solusi dan damaikan saat itu juga.
✘ Genit, Pecicilan, Cerewet, Bawel.
Aku bekerja di perusahaan yang mayoritas laki-laki, dan almost everyday aku suka bercanda atau bahkan sesekali mengganggu mereka. Pun terkadang mereka menjailiku dan aku merespon jail. Kali ini harus dikurangi, bagaimana pun caranya.
✘ Update ibadah.
Usahakan untuk tidak update saat kamu ngaji, foto lagi sedekah, sedang bermajlis, atau hal lain yang bsia menimbulkan riya. Riya itu ibarat semut hitam di atas batu hitam dan dilihat pada malam hari + dilihat pake kaca mata hitam hehe, tidak nampak tapi dia ada. Be careful ya, tapi semua tergantung niat. Perbaiki niat kita ya:)
✘ Dengar Nyanyian/Musik/Lagu.
Sepertinya aku pun akan sedikit susah, tapi apa salahnya kita kurangi kan? Terlebih lagi nyanyian yang kandungan liriknya bisa mengundang pemikiran yang negatif seperti perpecahan, seksualitas, dan fitnah. Aku gak akan membahas musik itu haram atau diperbolehkan, bukan di sini ranahnya. Kita berusaha kurangi saja ya.
✘ Pegang HP terlalu sering.
Nah ini juga akan berat, mengingat sebagian dari kita sudah terbiasa dengan gadget everytime and everywhere. Di sini aku berusaha menggunakan HP di saat benar-benar urgent, bahkan social media seperti Facebook, Instagram, Twitter akan saya buka di saat lagi kekenyangan HAHAHA, sedang berusaha komitmen nih, doakan ya :) Jangan tanya tentang urusan kerjaan, oh itu akan lebih profesional karena aku menggunakan Telegram dan itu sangat perlu tapi selama office hour saja.
✘ Bikin kue di akhir Ramadhan.
Ini sepertinya almost ciwik-ciwik sibuk mempersiapkan kue lebaran di akhir Ramadhan, padahal di akhir Ramadhan itu adalah saat-saat di mana ibadah kita harus makin naik bukan malah menurun karena buat kue. Buat kuenya nanti pertengahan puasa saja ya, diatur saja jadwalnya. FYI, aku kayaknya gak ikut berpartisipasi di kue-kuean karena lagi kerja juga selama Ramadhan.
Mungkin masih banyak hal yang harus kita hindari atau kurangi, ini sih based on my version dan based on experience and knowledge. Barangkali dari teman-teman ada yang punya cara menghindari hal-hal negatif selama Bulan Ramadhan yaa itu lebih bagus lagi.
Kalau sebelumnya bahas DONTs, selanjutnya DOs. Sekarang aku mau bahas apa yang seharusnya atau diupayakan untuk dikerjakan selama bulan Ramadhan.
✔ Puasa karena niat ibadah.
Ini hal kecil tapi penentu ibadah kita lho, karena semua berawal dari niat. Jangan karena ikut-ikutan, toh kita gak perlu latihan lagi kan buat menjalankan puasa?! Ayo perbaiki niat kita.
✔ Menambah beberapa sholat sunnah.
Beberapa dari kita tentu belajar yang mana sholat wajib dan sholat sunnah. Sholat wajib ya wajib (5 waktu) hehe, dikerjakan mendapat pahala, gak dikerjakan yang dapat dosa tentunya. Banyak sekali sholat sunnah yang bisa kita kerjakan, edisi merebut pahala sebanyak-banyaknya nih. Jika di hari biasa kita masih malas sholat Dhuha, ayo sempatkan 4 raka'at (2 kali salam) di waktu Dhuha; sholat sunnah sebelum dan/atau sesudah sholat wajibnya dikerjakan; sholat tarawih dan witirnya jangan ketinggalan; jika sempat untuk sholat Layl dan Tahajud lebih bagus. Pokoknya guanakn sholat sunnahnya dengan baik dan penuh semangat.
✔ Menargetkan khataman Al-Qur'an.
Ini adalah hal yang paling aku rindukan di saat Ramadhan. Berlomba-lomba dalam khatam Al-Qur'an, bisa sekali, dua kali, bahkan tiga kali atau mungkin lebih. Ahh serunya ๐Ÿ’• Udah tau tips triknya seperti apa kan? Di-searching aja, banyak kok. Semoga Ramadhan ini lebih semangat mengajinya biar target terpenuhi. Gak usah share ke social media-mu kalau kamu udah juz berapa atau udah khatam berapa kali, gak usah!
✔ Sedekah.
Banyak wadah untuk sedekah: banyak anak yatim/piatu yang membutuhkan uluran tanganmu; banyak masjid yang sedang membutuhkan dana renovasi atau pembangunan; sedekah ke saudara yang membutuhkan; dan banyak hal yang membutuhkan bantuanmu. Karena hartamu bukan sepenuhnya milikmu, ada hak orang lain di situ.
✔ Ikuti Majelis Ilmu.
Ini gak pernah aku ikuti di Ramadhan sebelumnya, berhubung aku belum mengetahui keutamaannya dan saat itu disibukkan dengan urusan dunia selama di Bandung. Nah, jika sebelumnya hanya lewat social media, ada baiknya kita ikut yang langsung bertemu/mendengar Ustadz/Ustadzahnya. Insyaallah malaikat menjaga kita dan turut mendoakan kita saat bermajlis ilmu. Insyaallah saat Ramadhan nanti akan bertebaran di mana-mana kok. Aku biasanya seminggu sekali ada kegiatan Majelis Ilmu bersama halaqoh Rafelina yang isinya para karyawati dan mommy2 hehe. Semoga nanti kita bisa menyempatkan diri dan waktu, semangat para pencari ilmu.
✔ Menjaga Wudhu.
Jika kita belum terbiasa menjaga wudhu, usahakan setiap mencuci tangan/kaki sekalian aja dengan wudhu. Memang di hari biasa aku selalu 'gagal' menjaga wudhu, beda dengan saudariku yang menjaganya dengan baik. Tau kan hal-hal yang membatalkan wudhu kita? Nah, jangan bosan berwudhu. Bahkan saat akan tidur, yabg biasanya jarang wudhu, usahakan every night sempatkan wudhu ya.
✔ Perbanyak dzikir, istighfar, memuji-Nya.
Jika kita berdzikir hanya saat selesai sholat, tingkatkan lagi kebiasaan berdzikir kita, misal dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, perbanyak istighfar yang menjadi penggugur dosa sebelumnya. Biasakan memuji-Nya, misal mengucapkan Masyaallah pada sesuatu yang indah. Jangan berhenti berusaha, Insyaallah bisa:)
✔ Perbaiki dan Perbanyak Hafalan.
Kalau lagu saja bisa dihafal, bagaimana dengan Surah Al-Qur'an(?) Boleh dicicil, boleh full, semampu kita saja. Aku pun untuk menghafal surah masih susah kok, kan lagi berusaha hehe.
✔ Dengar murottal Qur'an dan ceramah.
Ini jarang banget di hari biasa, untung-untungan bisa stay di satu ceramah yutub hehe. Kali ini bolehlah disempatkan, bagus kok buat nambah ilmu. Dengar murottal juga bisa memperbaiki hafalan kita, semoga makin baik ya:)
✔ Menyediakan hidangan berbuka.
Waktu dulu masih puasa di rumah, sering masak buat hidangan berbuka puasa. Semenjak jauh dari orang tua dan sibuk kerja, jangan kan masak, cari makanan buat buka puasa saja agak susah. Semoga tahun ini bisa disempatkan untuk masak dan berbagi, semangat ladies!!
Sepertinya masih banyak hal yang bernilai pahala dan bisa kita raih di bulan Ramadhan. Terlebih lagi ada malam Lailatul Qadr di malam ganjil di akhir Ramadhan yang harus kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Semoga kita bisa melaksanakan puasa dengan lancar dan khusyuk di tahun ini ya, aamiin. Tetap semangat untuk saling berbagi dan mengingatkan. Sekalipun belum baik, kita masih punya kesempatan untuk berbagi ilmu.
Jangan sia-siakan Ramadhan penuh berkah hingga hari yang Fitri tiba ๐Ÿ˜Š
Jazakumullah khoir๐Ÿ’•

Senin, Mei 14, 2018

#CeritaDara - Bertemu Pangeran Bali

         I will introduce my self to you, my name is Darwanti Priscillia. You can call me Dara. Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman bertemu 'Pangeran Bali' di suatu permandian di Sulawesi Tenggara. Mulai dari perkenalan secara tiba-tiba hingga komunikasi yang sudah tak pernah lagi. Sekilas cerita tapi memberi makna.
         Di saat libur lebaran, aku memanfaatkan waktu untuk libur kerja dan pulang ke kampung halaman bertemu keluarga. Selain bertemu keluarga, aku pun menyempatkan untuk berkunjung ke tempat wisata. Alhamdulillah ada ajakan dari keluarga ayahku untuk jalan ke permandian. Kami sekeluarga berkunjung ke permandian tersebut, mengambil beberapa gambar, selfie, wefie dan lain sebagainya. Ikutan bercanda juga sama keluarga, melihat pemandangan yang indah, dan tentunya permandiannya ramai oleh pengunjung yang beragam aktivitas.
         Saat itu aku bertemu dengan Zizi, ponakanku (anak dari Bibi Anis), kisaran umur 8 tahunan. Kami bermain berdua, ia tampak malu-malu saat itu, mungkin karena terakhir ketemu saat 2013 dan Zizi makin cantik dan makin aktif. Tak lama setelah bermain, Zizi pun kembali ke mamanya (Bibi Anis). Setelah makan siang, tiba-tiba Zizi menghampiriku, menarik tanganku, dan berkata 'Kakak, ada kakak sepupuku yang mau kenalan'. Aku langsung tersenyum dan mengajaknya bercanda 'Zizi, jangan bercanda, dek! Kakak mau pulang nih'. Aku tidak terlalu menghiraukannya karena menurutku tidak akan ada cowok yang mengajakmu kenalan lewat seorang anak kecil. Well, aku bersama keluarga langsung balik ke rumah, karena waktu sudah terlalu siang dan akan menuju sore.
         Keesokan paginya, aku mendapat ajakan dari tetangga untuk berkunjung ke sebuah danau terkenal dan hits. Dengan penuh semangat, aku dan adikku Lili langsung bergegas, dan langsung ke rumah tetangga untuk berkumpul sembari menunggu mobil jemputan. Saat itu Lili melupakan sesuatu di rumah, dan ia pun balik ke rumah (jarang rumah tidak terlalu jauh dari rumah tetangga tempat kami berkumpul). Saat kembali ke rumah tetangga, Lili dengan tergesa-gesa memberitahuku bahwa Ibuku ditelpon oleh Bibi Anis. Ibu melarangku berangkat karena cowok yang dimaksud oleh Zizi kemarin akan datang ke rumah untuk bertemu denganku. Aku tak menghiraukannya, karena aku butuh refreshing bukan butuh cowok.
        Selama perjalanan ke danau hits tersebut, Ibu selalu menelponku. Tumben sekali Ibu menanyakanku jam berapa akan pulang ke rumah. Almost tiap 1 jam Ibu selalu menelponku, aku nanya 'Emang kenapa Bu dari tadi nelpon mulu?'; 'Itu, nak. Ada yang mau ke rumah, kenalan sama kamu, cepat pulang ya sayang', kata Ibuku. Aku pulang sekitaran pukul 17.30 dan baru sampai di rumah, Ibu menyuruhku mandi, ganti baju, dan dandan yang cantik. Actually, aku capek saat itu karena memang jalan dari jam 8 pagi, ditambah dengan perjalanan jauh, kondisi jalan yang jelek, membuat badanku serasa remuk. But, aku tetap nurutin kemauan Ibu.
         Saya sudah dandan tipis-tipis, menggunakan gamis hitam bercorak butterfly, menunggu kedatangan cowok tersebut. Dan ternyata datangnya lama banget. Karena malas menunggu, akhirnya aku ke tetangga sebelah untuk silaturahmi. Yuph ke rumah sahabatku, teman kecilku hingga sekarang, her name is Ismi but i called her Ithong. Saat asyik ngobrol, tiba-tiba adikku memanggilku pulang karena cowok tersebut sudah datang ke rumah. Mulailah berdebar-debar jantungku, siapa cowok itu, apa maksud kedatangannya, apakah aku yang menjadi tujuannya dan beragam pertanyaan lain. Huft.
         Oh ini orangnya ya, ternyata dia seorang polisi. Namanya Ricky, ayahnya saudara kandung dengan Papahnya Zizi (suami Bibi Anis), dia tinggal di Bali, mamahnya orang Jawa dan ayahnya orang Sulawesi. Dia ke rumah ditemani oleh Bibi Anis, yuph Bibiku yang gaul. Terlihat malu-malu, sampai akhirnya Bibi Anis nanya ke Ricky 'Yang mana yang kamu maksud di permandian kemarin?'. Ricky menunjuk diriku, OMG,  kok aku sih? Emang aku secantik apa, kok targetnya aku HAHAHA. Dan why saat itu dia menggunakan kaos hitam, samaan dengan diriku. Setelah ngobrol, akhirnya dia pamit dan senyum kepadaku. Ahh malunya.
         Selang beberapa hari setelah ia datang, muncullah SMS dari nomor baru, dan ternyata itu adalah Ricky. Hmm pasti dia dapat nomor HPku dari Bi Anis hehe. Berlanjutlah komunikasi kami hingga saat ia di Bali kami masih lancar komunikasi, dari Line hingga ke Whatsapp. Kami saling bertukar informasi, sepertinya dia tertarik dan menyatakan suka padaku. Tapi tidak dengan diriku, aku menganggap seperti teman biasa karena aku belum tahu seperti apa dirinya. Dan setelah membaca kepribadiannya, ada beberapa hal yang membuatku kurang nyaman. Memang kami terpaut perbedaan usia hingga 3 tahun, wah aku masih ragu untuk masalah ini.
          Dia berkata akan main ke Sulawesi saat diizinkan untuk cuti, tapi aku masih terkesan biasa. Tidak jarang dia memuji fotoku saat aku update di Instagram atau di WA. Dan akhir-akhir ini kami jarang komunikasi bahkan sudah tidak lagi. Semoga ia selalu sehat dan kelak bisa berjodoh dengan wanita pilihan Allah dan sesuai dengan pilihannya juga.
          Terima kasih telah berkunjung ke rumahku, wahai Pangeran Bali. I hope you always be a good man for yourself and for your family. Senang berkenalan denganmu.

Smileyyy
 
Sekian #CeritaDara ❣️ Thanks for reading this๐Ÿ’•


Selasa, April 24, 2018

Hampir 2 Periode, Putus!


Bismillah. Mau curhat sebentar nih guys. Tentunya masih seputar kisah percintaan yang berakhir dengan cerita putus. Gak lama kok, hanya 9 tahun kami berhubungan, entah namanya apa. Saya tidak pantas menamainya sebagai masa pacaran, anggap saja hubungan kami dekat.

            Well, saya kenal dia sejak SMP, saat itu saya kelas VIII dan dia kelas IX. Kisah kedekatan kami bermula saat saya 'jatuh cinta' sama matanya yang sipit. Dia keturunan Tionghoa, pintar, pendiam, tidak nakal, juara kelas, putih, tinggi dan gendut saat itu. Kala itu, dia adalah satu-satunya yang membuat saya jatuh cinta dengan umur yang terbilang masih belum pantas pacaran. Cerita perjuangan biar dia bisa 'nembak' sangat panjang, intinya saya yang mengejarnya sampai 'dapat'.


Singkat cerita, kami jadian di bulan Agustus 2008, wow usia saya masih 13 tahun dan mulailah saya berpacaran. Masih menggunakan handphone jadul (tanpa kamera, tanpa musik), hanya lewat SMS dan telepon. Nembaknya lewat HP, kami tidak pernah bertemu langsung, hanya saling mengintip saat apel atau upacara pagi atau sekedar menyapa di kantin. Awalnya backstreet, namun lama-kelamaan  Bapak saya bilang 'Tidak perlu disembunyikan, ajak dia ke rumah'. Finally, dia ku kenalkan ke keluargaku, dia diterima baik tapi saat itu dia masih malu-malu, masih kecil loh HAHAHAHA.



Hubungan kami adem ayem saja, sayang-sayangan lewat handphone, hal apapun diceritakan. Gak pernah jalan-jalan sore atau pagi karena saat itu dia belum bisa mengendarai motor, saya pun tidak berani kalau harus keluar berdua dengan cowok.

Saat lebaran, dia main ke rumah; saat tahun baru, main ke rumah; saat valentine's day juga main ke rumah; bahkan saat anniversary pun kami rayakan di rumah. Dia selalu memberi kado, korban sinetron banget HAHAHAHA. Bapakku sangat welcome sama cowok yang berani mengenalkan dirinya ke beliau, dan dia adalah cowok pertama yang bisa menarik perhatian Bapakku, saat itu:')



Begitu terus sampai saat SMA, dia begitu baik kepadaku. Tapi kami bukan pasangan yang mengumbar kemesraan di sekolah misal makan bareng di kantin, dibawain bunga ke kelas, atau disamperin di kelas, GAK PERNAH. Kami hanya diam-diam saja, tapi satu sekolah tau kayaknya kalau kami pacaran, aneh sih. Tapi.... dia adalah seorang asisten guru Fisika saat itu, jadi nilaiku selalu aman, kan ada dia yang ngajarin. Teman-teman kelas selalu iri kalau nilai praktekku tinggi HAHAHAHA


           Saya sempat terobsesi untuk menjadi seorang paskibra sekalipun fisik masih kalah saing sama yang lain. Hingga suatu hari iseng-iseng ikut seleksi paskibra se-kabupaten Muna waktu kelas X, bersaing dengan 700-an siswa lainnya, Alhamdulillah lolos. Dan dia juga lolos seleksi, jadi kami bertemu lagi di paskibra. Kulit semakin hitam, rambut yang panjang dipotong hingga bawah telinga, pokoknya saat itu saya makin jelek. Tapi dia masih menganggapku sebagai ceweknya, bahkan dia bilang 'Kamu memang jelek dari dulu, kenapa saya suka sama cewek jelek kayak kamu?!'. Makanya jangan pacaran sama yang jelek kayak saya, Mas L  Beberapa orang ketahuan cinlok, dan kami disangka cinlok padahal memang sejak sebelum di paskibra memang sudah pacaran. Dia suka menertawaiku saat dihukum, pasukan 45 memang suka kena hukuman sih, even bukan saya yang salah. Satu salah, satu pasukan di hukum, huft. Kami sempat janjian 'telat' latihan, sampai akhirnya dihukum bersamaan, lari keliling lapangan berdua, romantis ya hmm. Dia bilang 'Mau digendong dek? Masih sanggup?' huhuuu lebai. Sampai malam pengukuhan, hari H dan malam ramah tamah kami masih bersama-sama. Selesai paskibra, saya mulai berhijab, dan alasannya untuk menutupi kulit hitam selama mengikuti paskibra.


Tantangan terbesar adalah saat pertama LDR, dia kuliah di Makassar sedangkan diriku masih kelas XII. Awalnya masih rajin komunikasi, tapi lama-kelamaan malah jarang. Karena saat itu saya terbiasa dengan komunikasi yang sangat jarang, dan saya juga sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional, maka saya tidak terlalu memusingkan hal tersebut, I enjoyed my school life. Dia juga balik ke Raha saat liburan semester, main ke rumah buat ngobrol banyak hal. Kami bukan tipikal pasangan yang harus jalan keluar, atau makan di luar, BUKAN.



Cobaan LDR terbesar adalah saat saya memilih kuliah di Bandung dibandingkan mengambil kuliah di Makassar (saat itu saya lulus SNMPTN di Universitas Hasanuddin). Memutuskan kuliah di Bandung adalah keputusan dari Bapak, beliau tidak mengizinkan kalau saya se-kota dengan pacar saya, saat itu. Pertama kali saya melihat dia menangis, dia memegang tanganku, sepertinya dia tidak sanggup kalau harus pisah jauh dari saya. Bahkan dia tidak mengantarku ke pelabuhan untuk sekedar say goodbye. Saat tiba di Bandung pun dia masih cuek, masih belum menerima. Berat sekali cerita LDR kami.

Selama kuliah, komunikasi kami sangaaaaat jarang, bahkan pernah sebulan sekali saya mendengar kabarnya seperti apa. Saya sempat minta putus, tapi dia tidak mau, oke deh lanjut saja hubungan LDR yang tak jelas ini. Kami bertemu 2 tahun sekali, karena libur lebaran dia jarang pulang. Daaann semenjak kuliah panggilan sayang kami berubah, dia tidak pernah memanggilku 'sayang' tapi 'dek, adik, atau nama biasa'. Dengan kondisi LDR seperti ini, saya mulai menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, organisasi, kepanitiaan yang hampir tiap hari mengisi waktuku. Sampai saya lupa kalau saya punya pacar. Banyak hal yang saya pikirkan dan terlalu menyibukkan diri sehingga istilah pacar itu hilang dari kehidupan saya. Dia wisuda pun, saya tidak dikabari, hingga muncullah inisiatif untuk mengirim kado dan ucapan lewat adiknya. Oke fine. Menyibukkan diri dengan kehidupan kampus adalah pilihan yang tepat untuk melupakan pacar, i enjoyed my campus life.



Saat saya lulus kuliah, saya mulai galau. Rasanya ingin nikah saja HAHAHAHA. Alhamdulillah cuma beberapa hari nganggur, saya langsung diterima kerja di sebuah perusahaan swasta di Bandung, fokus saya langsung pindah ke kerjaan bukan ke urusan nikah lagi hehe. Hanya bertahan 6 bulan, saya langsung memutuskan resign dan memulai kerja di Kendari. Saat saya balik ke Sulawesi, ternyata dia malah kerja di Jawa, haruskah LDR lagi? Sangat sedih.



Dia berusaha untuk kerja di perusahaan tambang, karena memang dia lulusan jurusan Pertambangan. Sudah diterima kerja di Tinanggea (masih daerah Sulawesi Tenggara juga) tapi jauh dari Kendari. Di situ saya sangat antusias untuk bertemu, bahkan sangat semangat menyelesaikan pekerjaan kantor untuk bertemu dia. Kami pun janjian di sebuah mall untuk sekedar nonton. Saat itu kami tidak berdua saja, dia membawa temannya dan ada Lisna adikku yang juga ikut. Di situ saya melihat sikapnya sangat beda, acuh dan tidak peduli kepadaku. Saya tetap mengajaknya ngobrol tapi responnya datar. Ini adalah moment pertama kami nonton bioskop bersama, dia memilih ngobrol dengan temannya dibanding denganku. Saya pun mengajak Lisna ngobrol tentang film yang saat itu sedang ditonton. Yang awalnya saya semangat, jadi sedih karena sikapnya yang berubah. Saya hanya terdiam. Ini pertemuan yang tidak ku inginkan.



Tidak bertahan lama di Tinanggea, dia pun balik ke Jawa, secara diam-diam. Mungkin dia butuh privasi dan saya bukan orang penting untuk diceritakan. Saya pun kecewa. Saat mamanya sakit, dia sempat ke Raha, dan saat dia di Kendari, dia tidak mengabariku, betapa sakit hati saya saat itu.  Saya mulai menyusun kalimat untuk putus, namun dia melarang untuk putus. Saya masih beri kesempatan tapi tidak ada perubahan.



Almost sebulan tidak ada kabar, dia pun meneleponku. Dengan tidak tertahankan, saya mengeluarkan semua uneg-uneg, saya menangis, dan saya minta untuk putus. Awalnya belum menerima dan sepertinya dia sangat tersakiti, dia update di mana-mana kalau dia sedang terluka pasca saya putuskan. Dan akhirnya semua terkesan biasa saja. Akhir Desember 2017, kami pun putus.



We can't guarantee a relationship, kami hanya berusaha. Dan memang sebaiknya kami berhenti untuk yang lebih baik. Jika memang berjodoh, maka akan dipertemukan. Pun sebaliknya, jika tidak maka itu bukan rejeki kami.



Thanks for reading this story, kami sudah menjalani hidup masing-masing dengan bahagia. Saya sibuk dengan kerjaan, dia pun 'mungkin' seperti itu.

Jangan lupa bersyukur, dan jangan pacaran lama ya.... Kalau ada yang serius, langsung nikah saja, luv๐Ÿ’•

Jazakumullah khoir, syukron ๐Ÿ’•

Sabtu, Maret 10, 2018

Aku Tak Suka Membaca Tapi....



Bismillah. Mengawali coretan di 2018, saya akan sharing tentang apa yang terjadi dengan kebiasaan yang akan membuat orang lain heran, well i said it's a bad behavior, i named it 'malas baca'. Mungkin ada yang berpikiran 'terus selama ini baca apa dong?', 'kalau gak baca, terus taunya dari mana?',and soon. Especially, lebih ke membaca buku kali ya, soalnya facebook, instagram, blog masih saya baca kok. See?

Okey, dan kali ini yang akan saya tekankan adalah 1. Apakah saya suka (baca)? 2. Penyebab saya gak suka? 3. Efeknya apa? 4. Adakah kejadian 'aneh' dibalik kebiasaan gak suka baca ini?. Lets see yaw.




Saya gak suka membaca. Sejak kapan? Sejak kecil saya selalu dibiasakan dengan yang namanya buku, buku dan buku. Bapak saya seorang guru yang almost everyday meminjamkan buku sekolah (perpustakaan tempat beliau mengajar). Tiap semester hampir di setiap mata pelajaran, saya selalu membeli buku penunjang belajar. Dan did you know? Im totally bored dengan buku-buku tersebut. Yang dibahas selalu materi pelajaran. Sampai di suatu saat saya minta dibelikan buku cerita, dan mereka menolak dengan alasan menghamburkan uang untuk selain kebutuhan sekolah. Sedih gak sih di saat kita penasaran dengan buku lain, malah diskakmat? :( Tiap pulang sekolah, saya mengulang-ulang materi TANPA membaca buku penunjang melainkan dari buku catatan yang notabene saya dengarkan dari guru saya, it was amazing because i can imagine what my brain n my heart feelin. Terkadang sesekali saya buka buku penunjang belajar jika ditanyakan oleh Bapak 'materi mana yang susah?'. As usual, pastilah saya menunjuk dari buku penunjang. Saya lebih sayang buku catatan dibanding buku penunjang: disampul rapi, diberi hiasan, diwarnai dan dijaga dengan sepenuh hati. Dan i always remember, buku catatan saya pasti diminta oleh guru, karena beliau akan gunakan sebagai acuan belajar khususnya ke junior saya. Alhamdulillah ya berguna juga. 


Lantas penyebabnya apa saya gak suka baca? Apa karena bosan sama buku penunjang? Oh enggak dong. Actually, orang tua saya sibuk dengan pekerjaan di kantor, dan saya banyak menghabiskan waktu bersama nenek (Alm.). Beliau tidak bisa membaca karena sedikit rabun, pun gak bisa menulis karena tangannya agak kaku. Lalu apa yang beliau terapkan dalam mendidik cucunya? Yuph, you, me or us can named it 'Story Telling'. She was a good story teller. Tiap saat bercerita: tentang kisah pahitnya, tentang manfaat tumbuhan, tentang hewan, tentang anaknya, tentang hantu hingga tentang jika beliau meninggal. Masyaallah, saya jadi rindu beliau. Setiap hari diberikan cerita, cerita dan cerita hingga saya lupa dengan membaca. Saya jadi lebih suka mendengarkan dan bercerita, bukan membaca. 


Hingga sekarang efek yang paling nyata adalah susahnya saya dalam membiasakan baca buku, apalagi berbau fiksi, susah. Saat kuliah, terkadang saya envy jika orang lain membahas buku favoritnya sedangkan saya hanya berdiam diri. Dan saya coba kembali untuk membaca, meminjam buku teman dan buku pertama berjudul 'Long Distance Relationship'. Bukunya sih bukan cerita kontinyu melainkan gabungan dari beberapa pengalaman yang hubungan jarak jauh (dulu gw juga gitu sih, makanya seneng haha). Hasilnya yahh cuma 3 atau 4 part yang dibaca, sisanya enggak. Next, buku 'Udah Putusin Aja - Ust. Felix'. Hmm memotivasi sih cuma rasanya agak berat dan malah bikin pusing kepala. Skip deh bacanya, finally cuma baca sinopsis di belakang bukunya HAHAHA. Pernah diberikan buku Dilan 1990, dibaca sampai halaman 100-an, gak tahan. Skip bukunya deh LOL. Efek nyatanya sih otak ini susah menerima bacaan apalagi berusaha how to imagine it, so hard huft. 


Pernahkah ada kejadian 'aneh' dari kebiasaan ini? Of course! Saya adalah orang dengan tipikal membaca cepat dengan kondisi kepepet, maka dengan sendirinya akan masuk semua yang dibaca tersebut HAHA. Di setiap melaksanakan ujian di kelas, di kampus, di mana-mana pasti gunakan jurus 'cepat jitu'. Alhamdulillah nilai selalu aman: SD juara 1 terus, SMP masuk 3 besar, SMA masuk 5 besar, kuliah lulus CUMLAUDE. Masyaallah! Sempat ada yang bertanya: bagaimana cara belajarnya, bagaimana bisa cepat tangkap, bagaimana cara memahami. Hmm simple sih, cukup niat karena Allah, dibarengi usaha 'cepat jitu' dan minta dukungan orang tua. Terus materi selama ini bagaimana, buku penunjangnya diapakan? Materi selama ini dipelajari dari catatan, dan buku penunjangnya masih tersusun rapi (dibuka sesekali saja LOL). Lantas apalagi yang 'aneh'? Kata orang sih, bisa nulis karena terbiasa membaca. But for me, tidak selamanya seperti itu. Dari story telling pun kita bisa menulis (buktinya ada di diriku sendiri hehe).


So, buat kamu yang mau menanyakan buku kesukaanku, honestly I HAVEN'T! Bukan berarti kamu gak harus baca, oh enggak dong. Kalau suka baca justru lebih bagus, dan oneday saya akan mengajarkan ke anak untuk eksplor dunia melalui buku, Insyaallah. Oiya, kalau mau berbagi cerita boleh ke saya ya, tapi dengarkan juga ceritaku. Kita saling berbagi cerita.

Thanks for reading this unmood page, kritik atau saran boleh juga sih dibagi ke saya ya, jangan yang pedas, saya gak suka pedas hehe apasi garing! And hopefully this will be useful ya. Syukron katsira ๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•



© WAFER | Blogger Template by Enny Law