Jumat, Januari 04, 2019

Gagal Tetap Tersenyum, Lulus Pasti Menangis

Bismillah. (Harusnya di-post sejak Agustus lalu-_-)
     Malam ini, lagi melow untuk mempersembahkan sebuah tulisan yang semoga menginspirasi untuk saya (jika nanti gagal) dan juga untuk teman-teman yang membaca. I want to tell you about my young sister, her name is Erni. Kali ini dia mengajarkan kepada kami bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditangisi, tapi disyukuri. Sejak lama ingin menulis dan berbagi ke teman-teman tentang karakter luar biasa dari adikku ini, tapi mumpung momennya pas (i mean habis pengumuman), bolehlah saya manfaatkan. Oke, lets talk about failure and win.

      Erni, anak ke-5 dari 6 bersaudara. Usianya masih 17 tahun, bentar lagi otw 18 tahun. Adik kami yang sangat berharap bisa membahagiakan orang tua, di dunia dan di akhirat, adik yang mengikuti tarbiyah sejak SMP sampai akhirnya memutuskan untuk memakai jilbab besar, adik yang dibilang mirip denganku, adik yang mudah kecewa dan tertutup, adik yang ketawanya paling besar sesuai dengan badannya yang tinggi dan besar, adik yang suka palakin kakaknya, dan pastinya adik yang selalu bangga dengan kesabarannya. Akhir-akhir ini dia berjuang untuk masuk ke Universitas (terkesan biasa sih, cuma ada hal positif yang belum tentu dimiliki orang lain), daftar sana-sini untuk tetap kuliah. Belum lagi tuntutan dari orang tua yang mewajibkan kuliah, yang membuatnya makin tertekan tapi tetap optimis dengan ketetapan Allah SWT. Selalu mencoba apapun hingga akhirnya gagal, mencoba lagi kemudian gagal, begitu seterusnya dan Alhamdulillah bisa lulus.

      Untuk tes pertama (SNMPTN), dia berusaha memilih jurusan yang sesuai dengan passion-nya saat ini. Memilih Universitas Halu Oleo dan Universitas Hasanuddin, tentunya dengan usaha dan doa serta rasa optimis bisa lulus di salah satu jurusan yang ia pilih. Sambil menunggu pengumuman SNMPTN, Erni sempat ke Kendari untuk liburan, saya sangat memanjakannya, pokoknya berharap dia betul-betul merasa 'Oiya, saya punya kakak yang peduli dan sayang', hmm Alhamdulillah. Dia selalu mengingatkan kami 'Tolong doakan saya agar lulus SNMPTN, sempatkan di sujud kalian'. Sembari menunggu pengumuman, Erni juga sempat mendaftarkan diri ke STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab) di Makassar tapi masih via online. Tidak lupa pula, kami mengupayakan proses lobbying ke bebarapa 'link', melakukan pendekatan dengan iming-iming gratifikasi dan tentunya berharap melalui 'link-link' ini adikku akan diupayakan untuk lulus. Lantas setelah menunggu, bagaimana kabar pengumuman? Saat itu ditentukan pengumuman...... Dan yang membuka website tersebut pertama kali adalah saya. Dengan rasa degdegan dan penuh harap, saya berdoa agar hasilnya baik. Namun takdir berkata lain, qadarullah adik saya Erni belum rejeki untuk lulus SNMPTN saat itu. Entah bagaimana saya akan menyampaikan ke Erni dan ke orang tua. Saat itu saya masih di kantor, dan langsung cepat pulang untuk sekedar memeluk adikku yang awalnya saya berpikir ini akan menjadi bad news. Setiba di kosan, saya bertemu Erni dan menyampaikannya. Dia tersenyum, dan cuma bilang 'Tidak apa-apa, masih ada kesempatan lain, saya percaya takdir Allah yang paling terbaik. Tidak boleh berharap ke manusia'. Tidak ada kesedihan yang diperlihatkan, hanya senyuman dan pastinya ketawa penuh candaan. Justru saat maghrib, selesai sholat, saya menangis, air mata saya langsung jatuh, bukan karena cengeng. Bagaimana bisa seorang adik yang berharap masuk kuliah justru senang dengan kegagalan, sedangkan diriku yang 2013 lulus SNMPTN justru tidak mengambilnya. Ingin rasanya ku berikan jurusan yang saya luluskan dahulu untuk adikku Erni, tapi mana bisa (?) Bahkan ketika saya menawarkan untuk jalan dan jajan, Erni hanya berkata 'Tidak usah habiskan uang, mending uangnya untuk saya hehe'. Dan akhirnya kami masih berharap untuk mencoba ke SBMPTN. Saat itu Erni melaksanakan tes SBM di dekat kantorku, saya memintanya ke kantor pada saat jam istirahat. Setelah tes, dia dan teman-temannya main ke kantor untuk makan siang. Sudah ku siapkan makan siang buat mereka dan mereka actually pasti kelelahan.

      Sambil menunggu pengumuman SBMPTN, adikku masih menikmati masa-masa belajar di Kendari untuk persiapan tes di STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab) di Makassar. Hingga saatnya dia berangkat ke Makassar bersama Mama, saat itu saya-lah yang memesankan tiket pesawat. Dalam hati, saya berharap akan terus memesankan tiket pesawat hingga adikku lulus di STIBA tersebut. Erni tidak sendiri, ia bersama teman SMA saya yang bernama Nani (Masyaallah sudah hijrah bahkan bercadar) yang akan tes bersama-sama. Dan di Makassar, mereka menginap di rumah Kak Dayat, a lot of thanks to Kak Dayat yang sudah memfasilitasi adikku, Mama, Nani dan Ibu Nani. Saya berpesan kepada Nani untuk mengajarkan adikku materi-materi yang sekiranya akan muncul nanti, karena saya tahu kalau Erni masih kurang persiapan. Erni dan Nani, they're feeling excited ketika bisa berkunjung ke STIBA sebelum hari tes. Hingga akhirnya mereka tes, tidak henti kami memberikan semangat, dukungan dan doa karena STIBA adalah kampus impian adik saya. Kami berharap tesnya akan lancar, namun as a bad news dari adik saya kalau dia sepertinya akan failed tapi dia sudah berusaha sebaik mungkin. Dengan penuh keceriaan, Erni meyakinkan kami kalau dia akan berhasil. Banyak cerita saat di Makassar: rempongnya Ibu-ibu, bingung cari oleh-oleh hingga cerita saat adikku naik pesawat. Setiba di Kendari, Erni sangat happy (but i know she was unhappy). Hingga akhirnya saat pengumuman STIBA, namanya tidak muncul sedangkan nama Nani muncul di daftar yang telah lulus, barakallah Nani. Adik saya masih bisa tersenyum, i know what she felt, like someone's down. Dia menguatkan dirinya sendiri, akan terus berjuang sampai suatu saat bisa tes dan menjadi mahasiswi STIBA. Dan dia juga berkata, dia masih muda diantara saingan yang lain, dan tak tanggung-tanggung saingannya dari luar negeri pun ada. Juga berkata kalau dia banyak kekurangan saat tes (hafalan, dan hal-hal lain).

      Melepas kegagalan di STIBA, Erni masih berharap di pengumuman SBMPTN, namun lagi-lagi namanya tak muncul (gagal). Saya sempat menangis dan merasa kasihan dengan adik saya ini, tapi dia begitu ceria. Her pressure was so big, terutama dari orang tua. Saya pun menawarkan beberapa kampus swasta di Kendari, namun ia tidak tertarik. Erni bahkan ingin menganggur sambil mempersiapkan diri untuk tes STIBA tahun berikutnya, namun orang tua saya tidak setuju. Anak-anaknya harus kuliah, jadi Mama sibuk menguruskan persiapan tes Seleksi Khusus (tes terakhir) di Universitas Halu Oleo. Dan di situ peran kami sebagai kakak sangat dibutuhkan.

      Banyak isu mengenai seleksi khusus ini, mulai dari kuota yang terbatas hingga biaya kuliah yang mahal. Mama sampai meminta bantuan keluarga yang kami harapkan bisa menjadi tangan penghubung (link) di kelulusan adik saya. Setelah semua selesai diurus, Erni memanfaatkan waktu untuk Tarbiyah (sempat beberapa kali ikut bersama halaqoh saya). Dan anak ini juga mengambil alternatif lain dengan mendaftarkan diri ke salah satu universitas kesehatan swasta di Kendari yaitu STIKES Mandala Waluya. Beberapa hari setelah mendaftar di MW, tiba-lah pengumuman Seleksi Khusus. Erni sudah siap dengan segala takdir Allah, dia bahkan tidak keluar kamar. Hingga selesai sholat Isya, dia masih di kamar, sedangkan kami kakak-kakaknya sibuk menunggu pengumuman. Dan Masyaallah nama Erni muncul sebagai mahasiswi PGSD. Kami semua memeluk Erni yang baru selesai dzikir setelah sholat Isya. Air matanya pun jatuh sambil tersenyum bahkan tertawa. Alhamdulillah akhirnya Erni bisa kuliah dan menjadi mahasiswi UHO.

      Kabar bahagia ini tentu kami sampaikan ke orang tua di Raha. Saya sangat kaget mendengar percakapan Erni dan Bapak yang penuh haru.
Erni :
Bapak :👨
️: Opaa saya kasi habis terus uangnya Bapak, saya daftar A, B, C, D belum lulus.
👨: Tidak apa2, nak.
️: Opaa sa minta maaf.
👨: Tidak apa2 anakku. Bapak senang anakku lulus PGSD, ikuti jejak Bapak.
️: Maafkan saya sudah merepotkan Bapak dan Mama, tapi tidak pernah lulus. Maafkan saya Paa, Maa.
👨: Anakku sudah lulus, jangan menangis e, anakku cantik harus bisa bagus di kuliah. Jangan pikirkan karena tidak lulus, bukan salahmu, Nak. Bapak dan Mama tetap usahakan yang terbaik.
️: Makasih Bapak, Mama. Maafkan saya.
👨: Aman, Nak. Baik-baik di situ e.
️: Boleh toh saya pake cadar?
👨: Boleh, boleh, Nak. Silahkan, tiada yang larang anakku.
Our Mirror Wefie

My Precious Erni

      Heran deh sama anak ini, kalau tidak lulus malah jadi strong (no sad), tapi setelah lulus yaa malah minta maaf plus menangis. Wah.... Erni mengajarkan kami bahwa gagal bukan sesuatu yang harus ditangisi, karena Allah menyiapkan kado yang spesial di balik itu semua. Barakallah adikku, selamat menjalankan perkuliahan, juga berbagai kesibukan (kebaikan) yang akan kamu jalani. Bergaullah dengan kedewasaanmu yang luar biasa. Dan juga sayangi orang-orang yang menyayangimu. Semoga Allah memudahkan langkahmu selama menuntut ilmu. We love you, Erni/Suerni/Atipeta/Busbel

Rabu, Juli 11, 2018

Adik Kecelakaan, Kakaknya Yang Greget


Bismillah. Hari itu (10 Juli 2018), adik saya sedang diuji karena kecelakaan tunggal saat hendak menjemput kakak. Kali ini, saya akan berbagi cerita tentang perasaan dan apa yang kami alami hari ini. Adik yang kecelakaan namanya Yustin, anak ke-4 dan saat ini masih berkuliah di salah satu Universitas Negeri di Kendari. Jangan dianggap lebay atau bawa perasaan ya, ini hanya ungkapan seorang kakak yang mencoba menyelesaikan masalah yang belum pernah dialami sebelumnya. Selamat menyimak.
Setelah sholat subuh, saya segera keluar dan beranjak ke kamar sebelah (saya dan Yustin beda kamar), untuk membuat sarapan (nasi goreng dan ikan goreng). Saat Yustin membuka kamar, dia sudah bersiap untuk menjemput kakakku (Chily) yang menginap di rumah temannya. Biasanya kakakku selalu dijemput tiap pagi. Tapi kali ini saya melihat Yustin yang baru bangun dan mukanya masih mengantuk untuk seseorang yang akan mengendarai motor. Saya sempat tegur. 
➤ Fera: Yus, mau ke mana? Itu muka masih mengantuk ih.
Yustin: Disuruh jemput Chily
Fera: Puasa atau tidak? Kalau tidak, sarapan dulu.
Yustin: Tidak tau ini, saya tidak sahur (lalu pergi begitu saja).
Saya tetap melanjutkan aktivitas untuk membuat sarapan. Sarapan sudah beres, buat susu hangat, lanjut beres-beres kamar. Setelah itu saya istrahat di kamar dan rencananya akan bersiap mandi, tapi main gadget dulu hehe.
Tidak lama kemudian, saya mendengar suara orang menangis tapi saya tidak terlalu hirau. Tiba-tiba Yustin muncul membuka pintu kamarku sambil menangis.
Yustin: Feraa saya habis kecelakaan (matanya merah, menangis terisak-isak, pipinya penuh air mata).
Fera: Astaghfirullah, mana yang lecet?
Yustin: Ini hee kos kakiku penuh darah (sambil menghapus air mata dengan bibir monyongnya huhu)
Fera: Sini kita ke kamar, pelan-pelan jalan. Saya liat dulu lukanya.
Yustin segera mengganti gamis dan mengganti jilbab besarnya, hmm masih menangis tentunya. Pelan-pelan saya buka kaos kakinya yang penuh darah, dengan penuh keberanian saya melihat lukanya. Tidak ada rasa ngeri atau jijik dengan luka tersebut, seketika saya berani untuk melihatnya. Di kamar, ada kakakku juga. Adikku kecelakaan sebelum menjemput kakak, tapi dia tetap menyempatkan diri menjemputnya sedangkan kakinya sudah berdarah. Masyaallah Yustin. Kemudian, saya membantu kakakku membersihkan lukanya. Kata kakakku, sepertinya tidak perlu dijahit, cukup diperban saja. Tapi saya bersikeras, lukanya harus dijahit. Saya yang akan membawanya ke Puskesmas terdekat. Yustin masih terbaring tapi tetap kesakitan huft dan saya pun bergegas mandi, pakaian, Dhuha.
Sekitar pukul 08.30, saya dan Yustin menuju Puskesmas Poasia dengan menggunakan Gr*b. Sudah izin terlebih dahulu ke kantor kalau hari itu telat datang. Well, setiba di Puskesmas, tanpa menunggu antrian, kami langsung ke IGD dan Alhamdulillah ditangani dengan cepat. Pegawai Puskesmas, perawat bahkan anak PKL-nya ramah. Adikku mulai berbaring sambil sarapan. Sempat minta diantar pipis juga, anak ini benar-benar lucu, minta ditopang gitu, padahal udah tau kakaknya ini kecil. Setelah dari toilet, barulah adikku mulai dieksekusi lukanya.
Saya diperbolehkan melihat langsung bahkan mengambil gambar, oke deh. Dengan kondisi baring telungkup, adikku mulai cemas. Saat lukanya sedang dibersihkan, Yustin teriak. Duh, dibersihkan saja sudah teriak begini, bagaimana kalau disuntik. Adikku lumayan cerewet, sampai akhirnya diinjeksi alias suntik keram. Menangis sambil teriak, saya cuma usap-usap kepalanya, mencoba menenangkan. Saking masih merasakan sakit, 3 botol injeksi pun ditancapkan ke lukanya. Dia terus beristighfar, menangis terisak-isak, dan sempat panggil 'Mama'.

Saat lukanya dibersihkan 
Yustin: Sudah dijahitkah? Kenapa lama sekali.
Fera: Belum, baru selesai disuntik keram.
Yustin: ihhh lamanya.
Fera: Sabar, biar tidak sakit pas dijahit kan harus disuntik keram dulu.
Yustin: Saya takut, bagaimana dengan shalatku? Bagaimana dengan puasaku besok? Masih ada kegiatanku.
Fera: Ya, kan bisa tayamum, bisa sholat duduk, bisa ditunda dulu kegiatanmu. Diam saja, jangan tegang biar cepat beres.
Saya menyaksikan langsung proses jahit lukanya, walaupun sesekali saya menolehkan kepala karena tidak tega. Akhirnya beres juga, 3 jahitan dalam dan 9 jahitan luar, total 12 jahitan. Mulai diperban, Yustin sudah bisa berbalik badan yang awalnya telungkup.

12 jahitan luka, huft .
Pegawai pegawai Puskesmas meminta data adikku. Kami disarankan menggunakan BPJS tapi saya menolak, alasannya urusan BPJS harus lapor dan diurus oleh orang tua dan saat kejadian ink kami sembunyikan alias tanpa sepengetahuan orang tua. Saya pun membayar normal (umum) untuk semua biayanya, lumayan sih. Adikku sempat mengeluarkan uangnya tapi saya tolak juga, ini anak kenapa sih gak percaya sama kakaknya atau gimana deh-_-. Setelah semua beres, Yustin memesan Gr*b untuk pulang ke kosan.
Baru saja masuk ke mobil, adikku Erni yang lagi di Makassar tiba-tiba menelpon.
Erni: Fera, Mama mau bicara.
Mama: Fera, bagaimana kondisimu? Sudah baikankah badanmu, Nak?
Fera: Iya, Ma. Alhamdulillah sehat-sehat, tapi belum puasa hari ini.
Mama: Kenapa suaramu serak, Nak? Menangiskah? Ini perasaan Mama tidak enak sekali, kalian baik-baik toh? Jaga adikmu di situ.
Fera: Oh ini Ma, suaraku serak karena habis flu kemarin. Iya, Ma. Saya jaga baik-baik ini, insyaallah.
Mama: Kamu di manakah, Nak?
Fera: Sudah dulu Ma, saya lagi ada urusan. (Matikan telepon, air mata hampir jatuh. Antara kaget, takut dan sedih karena Mama pun merasakan hal yang tidak baik saat itu, makin berat beban saya. Berbohong dan menutupi semuanya).
Setelah beres telponan, saya membantu adikku berjalan dengan menopangnya. Naik tangga pelan-pelan, dan akhirnya sampai di kamar. Dia mulai berbaring, sambil istirahat, sepertinya dia mengantuk. Sedangkan saya mengambil tas dan bersiap ke kantor. Sebelum ke kantor, saya peringatkan Yustin untuk tidak banyak gerak, makan ontime dan minum obat yang diberikan tadi. Lalu saya pergi ke kantor seperti biasa dengan menggunakan angkot. Hatiku masih cemas, tapi selalu istighfar dan berharap semua akan baik-baik saja.
Sepulang dari kantor, saya sempatkan membeli cemilan yang banyak kesukaan adikku Yustin, sekalian membelikan cemilan untuk adikku Adan karena malam itu saya akan menengok Adan di pesantren. Setiba di kosan, ternyata Yustin banyak cemilan, beberapa temannya datang berkunjung. Alhamdulillah dia masih tersenyum, masih ketawa bahkan sempat saya ajak bercanda. Uhh adikku yang  rajin, tiba-tiba terbaring gak ngapa-ngapain rasanya aneh sekali hahahaha.
Mungkin sampai Mamaku balik ke Kendari, kejadian ini akan kami ceritakan ke beliau. Biarkanlah Mamaku fokus untuk mendampingi Erni yang sedang tes di Makassar. Inilah cara mandiri yang selalu saya terapkan saat masih di Bandung dulu, tidak ada sakit yang boleh diketahui oleh orang tua. Maafkan kami, Ma.
Semoga hikmah dibalik kecelakaan ini bisa diambil, salah satunya saat kita baru bangun sebaiknya duduk sejenak, minum segelas air putih, tenangkan pikiran dan boleh melakukan aktivitas.
Bagi teman-teman yang sempat membaca blog ini mohon doa untuk kesembuhan adik saya, Yustin. Dan mohon doa juga agar saya tidak dimarahi oleh Mama, Bapak dan keluarga lainnya karena menyembunyikan kejadian ini. Syukron jazakumullahu khairon 💕
© WAFER | Blogger Template by Enny Law