Rabu, Maret 25, 2020

Throwback My Graduation Day, Three Years Ago

Bismillah.

Hari ini tanggal 25 Maret merupakan hari di mana tepat 3 tahun graduation day. For me, ini adalah hari yang sangat berharga. Karena kata Bapak, cuma dua moment yang akan membuatnya terharu dan bahagia, yuph saat graduation dan wedding. Di tulisan kali ini, aku akan throwback cerita dia tahun lalu. Yuk kita mulai.

Mama dan Bapak berangkat dari Raha ke Bandung, tiketnya aku yang pesan. Tapi dari Raha harus ke Kendari dulu hehe. Bapak sangat degdegan karena ini pertama kali beliau ke Bandung. Empat hari sebelum graduation, aku sudah plan orang tuaku harus sudah ada di Bandung. Alhamdulillah semua berjalan lancar, mereka tiba dengan selamat sampai di kosanku. Kurang lebih seminggu mereka di Bandung untuk menemaniku yeah. Walaupun agak jetlag, mereka bisa istrahat di kosanku yang sederhana.

Plan di awal, hari sebelum graduation, aku harus mengajak orang tuaku jalan-jalan di Bandung. Ada beberapa kejadian lucu, misalnya saat di Go-Car. Pertanyaan kocak dari Bapak diantaranya'Kamu tidak bayar? Gratis? Bayar pakai apa?; Kamu kenal sama supirnya? Dia tahu namamu?', oh well Bapak belum mengerti tentang e-money dan aplikasi online. Jadi ku jelaskan, ini bayarnya pakai ini dan memang pesannya lewat aplikasi, driver-nya bisa tahu namaku karena memang di aplikasi sudah tertera namaku. Bapak langsung mengerti.

Kami jalan-jalan ke masjid agung Bandung, seru banget bisa menghabiskan waktu di alun-alun. Membuka sendal dan duduk bercerita di rumput sintesis, mantap jiwa sih Kang Emil. Kata Bapak 'Ini yang ada di televisi toh? Biasa ada di sinetron dan acara-acara televisi? Oh jadi ini, bagus pemandangannya, Nak'. Ofcourse, Pak, you're right. Pas cari makan, Bapak dan Mama kurang suka dan kurang cocok sama makanannya, hmm. Hari pertama memang agendanya jalan-jalan. Pulang di kosan, Bapak langsung istrahat.
Di Alun-Alun Bandung

Bapak merasa sangat kedinginan, katanya beda suhu sama di Sulawesi, ya iyalah Pak. Tapi daerahku tempat tinggal termasuk panas, waduh belum ku ajak ke puncak, kayaknya Bapak akan menggigil hehe. Makan pun Bapak kurang selera, ini yang buatku sedih. Kadang aku pura-pura gak habiskan makanan, karena aku tau beliau pasti memakan sisaku, begitu saja terus tiap makan. Di hari Kedua, aku ajak Bapak dan Mama ke BEC (Bandung Electronic Center) dan BIP (Bandung Indah Plaza). Aku ajak makan dulu, masih sama nih kejadiannya sama kayak di Go-Car, nanya bayar pakai apa, huh Bapak deh ya nanyanya suka menggemaskan. Bayarnya pakai e-money juga Bapak sayang hehe. Terus ya kalau di mall kan automatically pasti ada eskalator. Bapak belum pernah naik eskalator, beliau sangat takut. Aku dan Mama senyum sambil nahan ketawa. Kata Bapak mau naik tangga darurat saja, haduh Pak. Bapak sudah keringat dingin gak mau naik eskalator, tapi aku dan Mama mengajarkan caranya seperti apa. Sambil menunjukkan orang-orang yang melewati eskalator, ku jelaskan pelan-pelan, jangan injak yang garis kuning. Akhirnya Bapak mau, tapi benar-benar sangat takut, mukanya merah dan badannya tegang. Bapak ya Badan saja yang kekar, nyalinya ciut tapi hati Hello Kitty ya Pak hehe. Aku dan Mama gak berhenti nahan ketawa, Bapak masih tegang walaupun sudah sampai di atas. Ku ajak Mama dan Bapak belanja, aku bilang bebas pilih apa saja. Tenang ya, aku punya tabungan dan ku belanjakan buat mereka. Kasus naik eskalator sudah dilewati, nah ini nih turunnya lagi yang susah, Bapak sampai ketakutan lagi dan keringat berjatuhan. Aduh aku kuatir juga jangan sampai terjadi apa-apa sama Bapak. Ku jelaskan lagi, dan ku genggam tangan Beliau, jangan takut, jangan takut. Itu tadi di BIP kejadiannya. Sekarang ke BEC, rencana aku mau tunjukkan ke Bapak kalau di sini ada banyak pilihan dan tokonya banyak bahkan pusatnya pun ada di sini. Terus aku singgah ke salah satu outlet elektronik, ku tanya Mama dan Bapak mau beli HP apa. Bapak dan Mama kaget, katanya gak usah beli HP. Aku paksa pilih, Alhamdulillah mereka mau. Aku sekalian beli HP baru juga sih, soalnya HP lama udah rusak juga. Tenang Pak Mah, Fera ada tabungan kok, semua sudah ku siapkan. Di Go-Car, Bapak semangat banget ngobrol sama driver, aku dan Mama senyam-senyum aja hehe
Maaf nih lagi foto sama Raisa depan BEC haha

Di hari ketiga, aku rencana membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Bapak bilang cari yang gak ada eskalatornya, akhirnya ke Pasar Baru. Di sana, Mama semangat memilih oleh-oleh, sambil telponan sama anak-anaknya di Sulawesi. Semua anak-anaknya harus kebagian jadi agak rempong ya. Terus ada kejadian lucu lagi nih tentang Bapak. Bapak bilang mau pergi cari sendiri oleh-oleh, waduh kalau tersesat di Pasar Baru bagaimana ya. Akhirnya kita hide and seek, aku sama Mama diam-diam mengikuti Bapak. Beliau membeli pakaian olahraga, sampai 8 atau 10 lembar. Suddenly, kita ngagetin Beliau. Aku larang bayar pakai uangnya, aku mau bayarin, aku langsung dimarahi, 'Kamu jangan belikan Bapak terus, Bapak ini punya uang'. Aku langsung diam, di perjalanan pulang pun masih diam-diam. Sepulang di kosan, aku sibuk main laptop, gak buka pembahasan, rasanya mau nangis. Tapi aku juga harus ke venue graduation untuk gladi bersih, Alhamdulillah masih disempatkan, dan ku tahu tempat duduk Mama dan Bapak untuk besok. Pulang dari gladi, aku masih terdiam di depan Bapak. Tiba-tiba Bapak menyapu rambutku, 'Bapak bukan larang kamu belikan Bapak, Mama dan Bapak ke sini sudah punya persiapan, kamu kan masih belum punya kerjaan tetap, harusnya Bapak yang belikan kamu, jangan ambil hati kata-kata Bapak di Pasar tadi. Siapkan untuk besok wisuda, jas Bapak belum disetrika, pakaianmu juga belum, ayo gerak-gerak'. Akhirnya aku merasa sedih lagi. Tapi setelah itu aku semangat menyiapkan segalanya buat besok, termasuk tutorial make up, karena aku gak menyewa MUA.

Keesokan harinya, subuh-subuh Bapak sudah bangun dan segera mandi. Tapi aku dan Mama masih dandan, akhirnya Bapak kembali tidur, Bapak kocak deh, sabar ya Pak. Setelah semua ready, aku janjian sama Wiwik, teman sedaerahku yang juga wisuda saat itu. Kami bertujuh berjalan kaki ke kampus. Kami sempatkan untuk berforo sejenak sebelum masuk venue. Aku menyerahkan undangan ke Bapak dan Mama, karena saat itu Bapak dan Mama duduk di tempat khusus orang tua yang anaknya cumlaude jadi undangannya beda hehe. Mereka segera memasuki TUCH (Telkom University Convention Hall), sedangkan aku harus baris dulu di luar sebelum masuk ke TUCH.

Ketika memasuki TUCH, melewati red carpet, di-shoot dilayar yang ada muka kami di barisan, dan diiringi irama yang menyenangkan dan penuh semangat. Sudah ku lihat Bapak dan Mama berdiri di sayap kiri. Ku lihat ekspresi Bapak yang sangat bahagia, mukanya merah, dan sesekali menyapu matanya, ku tahu beliau terharu dan menangis melihatku memakai toga ini. Mama dan Bapak melambaikan tangan kepadaku, ku berikan 'kiss jauh' buat mereka. Aku ikut terharu dan menahan air mataku, aku gak mau make up luntur hehe bercanda ya. Setelah namaku dipanggil ke depan, Mama dan Bapak membaca profil wisudawati yang berisi pesanku di layar besar, setelah ku turun dari tangga Bapak berdiri sendiri dan memberikan dua jempol kepadaku. Untuk wisudawan yang cumlaude, disediakan bunga untuk diberikan ke orang tua, aku mengambil bunga tersebut. Setelah acara hampir selesai, kami dipersilahkan memberikan bunga tersebut ke orang tua. Dengan segera aku menuju ke tempat duduk Mama dan Bapak, ku berikan bunga tersebut, ku peluk mereka dan aku menangis bahagia sambil berterima kasih kepada mereka berdua. Kata Bapak 'Anakku hebat, terima kasih, Nak', MasyaAllah bahagianya membawa mereka ke Bandung dengan rasa bangga yang dirasakan keduanyakeduanya terhadapku. I did it, Ma, Pak, I love you.


Foto bareng Keluarga SEARCH Telkom University
Foto Bareng Keluarga KPM Telkom University

Drama graduation day belum berhenti, setelah keluar dari TUCH, ternyata banyak teman-teman yang menyambutku dan memberikan selamat berupa kado dan bunga, MasyaAllah. Untungnya dari awal sebelum berangkat aku sudah minta Mama membawa kresek hitam (bukan karena geer bakalan dikasih banyak hadiah, tapi memang buat persiapan aja ya kan), dan memang sangat berguna bahkan masih kewalahan memegang hadiah-hadiah tersebut. Mama dan Bapak bingung kok temanku banyak sekali, Beliau gak menyangka banyak hadiah dan ajakan foto bareng. Aku gak tega melihat Mama dan Bapak berdiri memegang banyak hadiah, mungkin mereka capek juga, akhirnya aku mengajak mereka berdua ke dalam gedung fakultas. Ku puas-puaskan foto sana-sini bersama teman-teman, lalu menemui orang tuaku di dalam gedung fakultas. Ternyata di dalam gedung tersebut masih banyak teman-teman yang ku temui, foto lagi deh. Bapak sudah kelaparan sepertinya, mukanya murung, tapi Mama masih enjoy sih. Alhamdulillah, setelah semua drama selesai, kami pun pulang ke kosan. Aku singgah membeli makan siang untuk Mama dan Bapak. Hadiah belum ku buka dan bunga-bunga ku letakkan secara random di sudut kamar. Setelah makan, Mama dan Bapak istrahat yuph tidur siang, mereka sangat kelelahan. Padahal rencananya aku mau ke photo studio, tapi gak tega bangunin mereka, jadinya pending dulu photo studio. Aku mulai menyusun bunga ke dalam ember yang sudah berisi air, biar bunganya tetap segar. Membuka hadiah satu per satu yang MasyaAllah, ku baca juga satu persatu wish dari mereka, Alhamdulillah banyak yang mendoakan. Terima kasih teman-teman, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.
Teman seperjuangan sedaerah, Wiwik


Foto Jadi Anak Tunggal hehe
Keesokan harinya, kami diajak makan siang bersama di kosan Wiwik. Setelah makan bersama, Mama dan Bapak ku minta bersiap-siap untuk foto studio, make up lagi hmm. Banyak kejadian lucu di studio tersebut. Bapak ketawa mulu karena katanya belum pernah diarahkan gaya berfoto oleh fotografer, beliau gak berhenti ketawa Ya Allah lucu sekali Bapak. Setelah memilih foto, aku mengajak Bapak dan Mama untuk Photo Box. Ini first time mereka masuk Photo Box, Bapak kembali ngakak dan gak berhenti ketawa, Mama juga ikutan merasa lucu. Entah apa yang membuat Bapak lucu, tapi saya bahagia liat Mama dan Bapak ketawa lepas seperti itu. Setelah foto studio, kami mengganti pakaian, dan memang sudah bawa pakaian ganti dari kosan. Next, kami melanjutkan perjalanan ke gedung sate, sayang banget saat itu kondisinya gerimis jadi gak bisa lama-lama.
 
Bapak happy banget ya foto kayak gini hehe


Photo Box tapi kocak hahaha


Aku merasa seperti anak tunggal saat ada Mama dan Bapak di Bandung. Tapi Mama dan Bapak gak bisa lama-lama, karena cuti hanya seminggu. Mama juga sudah kangen degan anak-anaknya yang lain, dan Bapak sudah merindukan murid-muridnya (Bapak memang sangat care sama anak muridnya di sekolah). Di hari berikutnya, mereka memutuskan untuk stay di kosan saja sambil menghabiskan banyak cerita denganku. Mereka pun membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang ke Raha.
 
Ganteng kan Bapakku hehe
Hingga saatnya aku menemani Mama dan Bapak di terminal Bus Primajasa. Banyak pesan-pesan Mama dan Bapak sebelum berangkat ke Jakarta. Saat itu aku menitipkan tas ke Bapak karena aku mau ke toilet. Ternyata diam-diam Bapak menitipkan uang di tasku yang paling dalam dengan dibungkus kertas tanpa sepengetahuanku. Dan sebelum naik ke Bus, Bapak memberikan uang padaku, padahal sudah ku tolak. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan aku kembali ke kosan. Setiba di kosan, aku sarapan nasi kuning dan berdiam diri untuk menenangkan pikiran. Rasanya belum menerima kenyataan kalau Mama dan Bapak sudah balik ke Sulawesi. Aku memeriksa tas dan ku dapati lembaran uang merah di tas, aku langsung menelpon Mama dan Bapak tapi mereka tidak menjawabnya. Aku langsung menangis, aku gak nyangka menerima uang sebanyak itu dari orang tuaku. Ketika sore hari, Mama dan Bapak mengabari kalau mereka sudah di Kendari. Mereka berterima kasih kepadaku yang tak pernah menyusahkan mereka selama di Bandung, katanya uang di tas untuk membeli keperluan biar betah di tempat kerja. Ya Allah terima kasih Mama dan Bapak, I love you.
Sedih harus LDR sama Mama dan Bapak :')
Itulah sedikit cerita selama Mama dan Bapak menghadiri graduation di Bandung. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang sederhana dan aku tidak pernah malu dengan mereka yang 'kudet, kampungan, atau katro'. Saya malah bersyukur mereka terus menyayangi, mendukung dan mendoakan hingga sekarang. Semoga orang tua kita selalu dilindungi oleh Allah, diberikan kesehatan dan umur yang panjang dan kita bisa terus membahagiakan mereka di dunia dan akhirat kelak. Dan terakhir, tugasku untuk membuat Bapak terharu belum selesai kan ya? Doakan aku biar bisa membuat Bapak terharu di hari spesialku nanti, yuph in My Wedding Day. Anyway, terima kasih juga buat kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini. See you in next stories. Jazakallah Khairanđź’™

Rabu, Februari 12, 2020

Quarter Life Crisis?

Bismillah....

Di sebuah perkampungan yang tak jauh dari pusat kota, telah lahir anak kedua dari pasangan suami istri pada bulan Ramadhan. Sembari menunggu proses kelahiran, Bapak anak tersebut sedang sibuk belajar untuk mengikuti sebuah ujian. Bayi itu menerima gendongan pertama yang mengagetkan kedua orang tuanya, karena saat itu ia lahir dengan kondisi penuh rambut dan penuh tangis. Hari ini bayi tersebut telah berumur 25 tahun, 12 Februari. Banyak yang telah dilewati dalam kehidupannya: bahagia, sedih, susah, nano-nano kalau kata orang-orang. Anak itu adalah aku, Fera.

Nama Fera berasal dari bulan FEbruari dan RAmadhan, selebihnya itu ditambah gelar bangsawan dari orang tua dan nama kampung. Nama yang diberikan oleh Bapakku dengan penuh pertimbangan, berharap aku tumbuh dan menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Hmm random saja ya ceritaku. Aku menghabiskan masa kecilku di kampung tempat lahirku yang tak jauh dari Kota. Namun, setelah adikku lahir, Bapak memutuskan untuk hijrah ke Kota. Alhasil, 3 orang anaknya lahir di kampung dan 3 orang anaknya lagi lahir di Kota. Saat itu aku masih ingat, aku termasuk anak yang menggemaskan karena badanku tumbuh subur, mataku terlihat sipit hingga dikatakan mirip orang Cina (kok sekarang malah gede banget ya mataku?!), dan aku juga terlihat seperti anak laki-laki karena berambut pendek.

Awal tinggal di Raha, kondisi rumahku sangat sederhana, mungkin kalian bisa bayangkan rumah papan dan panggung, dengan halaman yang sangat luas dipenuhi berbagai tanaman. Di sinilah arenaku bermain, berlari ke sana ke mari, bebas makan buah apa saja, bisa memanjat sana-sini, ada jungkat-jungkit juga ada beberapa ayunan yang dibuat khusus oleh Bapakku. Perlahan-lahan Bapak mulai membangun rumah baru yang luas dan bertingkat, beberapa pohon ditebang dan halaman semakin sempit. Setiap saat aku bertemu dengan tukang yang bekerja di rumah, mereka bercanda denganku juga saudara-saudaraku. Tidak jarang aku membantu para tukang walaupun hanya mengangkat batu kecil dan menghambur peralatan mereka karena aku selalu bertanya nama masing-masing alat tersebut.

Dimulai dengan Taman Kanak-kanak (TK) di Raha, aku mengikuti jejak kakakku untuk bersekolah di TK yang tak jauh dari rumah. Setiap pagi aku diantar oleh Bapak, dengan jalan kaki atau digendong. Membawa bekal yang disiapkan Mama, membawa peralatan gambar dan alat tulis. Setiap pulang TK, aku selalu mengumpulkan gambar hasil karyaku di suatu tempat. Mulai dari TK pula aku belajar menabung, selain menabung di sekolah, aku pun punya tabungan sendiri yang ku simpan di kamar Mama. Rasanya menyenangkan bisa menabung seperti ini. Alhamdulillah kebiasaan ini masih berlangsung hingga sekarangsekarang, tapi tabungannya bukan di kamar Mama lagi ya hehe.

Saat di sekolah dasar (SD) , aku termasuk anak yang berprestasi Alhamdulillah. Banyak hal menarik di SD, mulai dari hobiku yang suka senam jasmani (ikut jejak Bapak), berteman dengan laki-laki, bermusuhan di mana-mana, hingga berkelahi dengan teman. Sekarang? Tenang saja, aku adalah wanita yang kalem dan tidak suka berbuat kegaduhan. Aku juga suka mengoleksi beberapa barang saat SD misalnya parfum Disney yang harganya murahan kok, mengoleksi binder, juga mengoleksi lirik lagu (aku rajin menulis lirik-lirik lagu yang ku dengarkan sendiri lewat radio atau televisi), mulai mengoleksi perhiasan rambut, tetapi aku tidak mengoleksi pakaian karena aku belum tahu perkembangan jadi pakai sesuai yang dibelikan Mama atau Bapak. Dari SD juga aku sudah mulai membeli barang sendiri, saat itu pertama kali membeli lemari plastik yang harga 250K dari hasil menabung, karena aku sudah diberikan kamar baru.

Di awal SMP, aku kehilangan seseorang yang aku sayangi, beliau adalah Nenek dari Bapak. Nenek yang menemani kami dari anak pertama hingga terakhir, Alhamdulillah. Beliau sakit stroke saat aku masih kelas 6 SD. Fera sayang sama Nenek dan selalu berdoa buat Nenek. Semoga Almarhumah selalu mendapat kebaikan di sisi Allah, aamiin. Pada masa SMP ini, aku mulai memakai handphone bekas kakakku karena dia sudah punya yang lebih baru. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai beli handphone baru yang lebih bagus dengan menggunakan yang tabunganku sendiri, kalau gak salah harganya 1,8 jutaan, Nokia Express Music hehe. Saat itu juga aku membeli spring bed baru dengan menggunakan uangku sendiri, harganya 1 jutaan. Alhamdulillah ya. Kelas 2 SMP, aku mulai mengenal pacaran, berpacaran dengan kakak kelas yang aku kejar selama beberapa bulan (dengan cara halus, mungkin sampai sekarang dia gak tau pengorbananku). Iyap, sejak 2008 kami mulai berpacaran, inilah pacar pertamaku yang langsung ku kenalkan ke orang tuaku dan ternyata orang tuaku senang mengenalnya. Hubungan yang langgeng hingga aku mulai bekerja di Kendari, 9 tahun lamanya. Tentu ada lika-liku saat berpacaran, apalagi dengan usia masih muda di 2008.

Memasuki masa SMA, aku masih berhubungan dengan pacarku dulu. Dia sangat baik padaku, mengantarku pulang kadang-kadang sih. Tidak jarang juga aku bermain nakal di belakangnya dengan mendekati laki-laki lain walaupun hanya bercanda. Aku mulai mengenal organisasi di SMA, menjadi anggota OSIS, beberapa kali  mengikuti kegiatan dan kepanitiaan, seru rasanya. Hubungan LDR (Long Distance Relationship) dengan pacarku dulu juga terjadi saat aku masih SMA, aku di Raha dan dia di Makassar, sedih juga sih. Walaupun di Raha jarang bertemu tapi kondisi saat LDR juga sangat berbeda, rasanya jauh sekali. Tapi aku punya pelampiasan lain, karena aku juga berteman dengan beberapa laki-laki, entah itu teman kelas atau teman di OSIS, jadi aku tidak kesepian untuk sekedar mengisi hari-hariku. Aku pun punya sahabat yang setia bersamaku, mulai dari kerja tugas bersama, ghibah sampai jalan bersama, tapi saat ini kami semua sudah saling berjauhan juga tetap berkomunikasi dan saling mendoakan tentunya. Di tahun terakhir SMA, kami dibuat galau dengan pemilihan universitas. Dan saat itu aku memilih Universitas Hasanuddin sembari melakukan tes online di Telkom University. Alhasil aku lulus di kedua Universitas tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih melanjutkan kuliah di Telkom University, ya di Bandung.

Merasakan dunia perkuliahan dan jauh dengan orang tua menjadikanku lebih kuat dan mandiri. Belajar merasakan LDR dengan keluarga, Raha-Bandung. Mempersiapkan kebutuhan untuk perkuliahan, banyak banget dan riweuh. Aku membeli laptop dengan menggunakan uang sendiri saat awal kuliah, harganya 4 jutaan dan juga membeli smartphone baru. Alhamdulillah masih bisa membeli dari hasil tabungan. Aku menjalani perkuliahan dengan baik, ikut di berbagai organisasi, kegiatan-kegiatan, dan berbagai hal yang bermanfaat. Aku juga sibuk mencari uang jajan sendiri, dengan berjualan tiket pesawat, dengan mempromosikan usaha sablon seniorku, dengan menjual makanan dan lain sebagainya. Ada beberapa kegiatan kampus yang menambah uang jajanku sehari-hari Alhamdulillah. Saat itu aku masih menjalani LDR, dan aku bahkan lupa kalau aku sedang menjalani hubungan berpacaran hehe lucu ya. Alhamdulillah, aku lulus dengan predikat yang baik (cumlaude) dengan IPK yang baik dan bisa membanggakan Mama dan Bapak saat menghadiri wisudaku. Mereka sempat kaget, begitu banyak pemberian hadiah dari teman-temanku, dan tentunya kedua orang tuaku turut bahagia.

Sebelum wisuda, aku sudah diterima kerja di salah satu perusahaan swasta di bidang finance. Bisa di bilang aku belum minat di pekerjaan tersebut. Selama kurang lebih  4 bulan bekerja di sana, aku mulai pindah kerja di salah satu bank swasta. Tapi selama bekerja di Bandung, aku selalu sakit, hampir setiap bulan aku harus injeksi dan konsumsi obat. Terlebih lagi tersisa aku sendirian di Bandung, teman-teman seperjuanganku sudah kembali ke Raha. Jika dibandingkan saat kuliah, kerja lebih melelahkan. Akhirnya aku meminta bantuan kakakku untuk mencarikan pekerjaan di Kendari. Alhamdulillah, aku bisa mengikuti tes dan aku lulus untuk bekerja di Kendari. Hijrah ke Kendari menjadikan ku lebih bahagia, karena di sini banyak sisters yang menemani. Bahkan aku jarang sakit, dan paling hanya sesekali kelelahan. Aku mengalami patah hati dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan pacaran, setelah bertahun-tahun menjalani masa pacaran. Tetapi kami harus putus dan Alhamdulillah masih bisa berkomunikasi dengan baik, dia tetap baik padaku.

Selain bekerja, aku juga mulai mengikuti Tarbiyah. Alhamdulillah di sini aku merasa nyaman dan mendapatkan ilmu yang tiada henti. InsyaAllah akan aku jalani terus menerus. Semenjak putus, aku mulai dekat dengan beberapa orang. Tapi masih ku anggap sebagai teman biasa. Walaupun  hanya berteman, aku terkadang merasa baper dan merasa sakit hati. Hingga akhirnya ada seseorang yang membuat hatiku patah, dan aku hampir menyerah dengan kondisi yang tak baik ini. Saat ini juga aku masih menjalani self healing untuk mengobati segala rasa sakit, baik raga maupun hati dan pikiran. Alhamdulillah hingga sekarang masih merasakan kesendirian yang semoga bisa dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangiku karena Allah SWT.

Di usia yang memasuki quarter life crisis ini, aku berharap akan semakin banyak yang mengenalku dari kebaikan yang aku bagi, bukan dari kesalahan yang pernah ku lakukan. Jika di hari-hari kemarin belum terlalu kuat, maka mulai saat ini berusahalah untuk tetap kuat di atas kaki sendiri. Terus mengejar ilmu agama sebagai bekal, dan terus beristighfar karena telah banyak kesalahan yang ku lakukan di hari-hari kemarin. Selalu berikhtiar bahwa segala sesuatu yang akan kita raih tentunya harus dengan usaha yang besar. Aku pun tak lupa meminta maaf kepada semua orang yang pernah aku sakiti, dan InsyaAllah sudah memaafkan yang menyakitiku. Laa tahzan innallaha ma'ana, and keep hamasahđź’•  Welcome 25🎉

Hello 25 :')

Sabtu, Februari 01, 2020

Bangga Dengan Peringkat Satu?

Bismillahđź’™

Seorang anak sekolah dasar (SD) terlihat lebih rajin dari teman-temannya yang lain. Menghabiskan jam istrahat siang dengan belajar, waktu bermainnya kurang dinikmati bahkan badannya sudah tak segemuk saat TK. Yang dilakukan tidak lain dan tidak bukan karena ingin mendapatkan predikat juara 1 di kelas dan mempertahankannya hingga lulus. Yup, itulah aku.

Menjalani sekolah dasar di sekolah yang katanya satu-satunya SD yang berada di dalam hutan, padahal sih bukan hutan tapi memang di sekitar situ masih banyak pohon di tengah pemukiman warga. Saat pertama kali masuk SD, aku ingat sekali saat itu aku tidak mau mengenakan pakaian seragam dan justru ke sekolah dengan pakaian biasa, lucu ya. Tapi mamaku bilang, aku gak diizinkan masuk kelas kalau masih menggunakan pakaian biasa dan hari itu juga aku pulang ganti seragam. Awalnya saja sudah unik, kehidupan SD juga lebih seru dan I enjoyed it so much.

Sejak kecil aku terlihat tomboy dan banyak bergaul dengan laki-laki. Tapi aku tidak mau berteman dengan satu orang laki-laki yang saat itu manjadi saingan berat di kelas. Sekarang justru kami terlihat dekat (sebagai teman ya), karena dia juga sudah menikah dengan sepupuku, wah. Sejak kelas 1 hingga kelas VI, kami tidak saling bertegur sapa, tetapi saat ujian akhir nasional dia mulai menegurku. Mungkin dia melihatku kesusahan menjawab soal, dan menawarkan untuk menukar lembar jawaban yeah. Dari situlah kami mulai saling bertegur. SMP hingga SMA dan bahkan saat dia sudah jadi polisi, kami selalu saling berkomunikasi. Dan sekarang sudah seperti saudara, tak jarang dia mengejekku 'Kapan nikah?' hahaha mentang-mentang dia sudah nikah ya jadi masih saja suka mengejek huuu.


Saat kelulusan SD, saya juga masih terlihat unggul dibandingkan yang lain. Namun, saat SMP dan SMA mulai ciut nyali. Mungkin karena sudah berhadapan dengan orang-orang cerdas lainnya. Yang penting masih masuk di 5 besar dan nilai masih aman ya, patut bersyukur. Aku juga sempat mengikuti kursus bahasa Inggris saat SD dan SMP, hasilnya ya masih saja burank (buru rangking), lumayanlah ya masih bermain di posisi satu dan dua hehe. Seru juga kalau pakai sistem buru rangking, tapi ini berlaku gak ya saat kuliah?


Bagaimana dengan kuliah? Aku banyak bertemu teman-teman daerah lain yang mempunyai banyak perbedaan: karakter, budaya, kebiasaan, attitude dan lain-lain. Mayoritas dari mereka adalah orang-orang pintar dan cerdas, aku merasa seperti orang yang biasa saja, mungkin saat itu aku sudah mulai menyadari diri bahwa aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Tapi tetap saja kebiasaan bureng masih berlaku di hidupku. Sejak awal semester, aku berusaha agar nilaiku selalu bagus, Alhamdulillah hingga semester akhir nilaiku selalu baik. Bahkan aku bisa lulus dengan predikat Cumlaude. Banyak sih yang lebih dari aku, tapi ini patut ku syukuri, artinya aku selalu berusaha lebih baik dari sebelumnya.


Menurutku, kebanggaan dengan nilai atau predikat memang wajar-wajar saja, toh ini semua kita persembahkan untuk orang-orang yang kita sayangi terutama keluarga, agar mereka bangga bahwa anaknya di perantauan benar-benar menimba ilmu dan bisa seperti orang lain yang memiliki predikat baik. Tentunya predikat yang kita miliki saat di dunia, masih belum ada apa-apanya dengan kenikmatan saat mengejar ilmu agama yang tak ada habisnya. Alhamdulillah selama memiliki nilai, peringkat dan predikat yang baik, aku tidak pernah dan tidak akan mau menyombongkan kepada orang lain. Berbangga hati untuk membuktikan kepada keluarga bahwa kita bisa adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai ada kesombongan untuk diperlihatkan di hadapan banyak orang karena itu hal yang sia-sia. Semoga predikat baik di akhirat kelak akan kita dapatkan dibanding predikat selama di dunia, teruslah berjuang dan never stop learning đź’™

Rabu, Januari 08, 2020

Track Record Gak Pernah Laundry #FunFact


Hello.... Di sini ada yang menyelesaikan kuliah dan kerja di tanah rantau? Mungkin akan banyak dari kita yang seperti ini. Bagaimana rasanya menjadi pribadi yang mandiri, yang awalnya biasa dibantu oleh saudara/saudari bahkan dibantu oleh orang tua?! Kita secara gak sadar dituntut untuk bisa menyelesaikan pekerjaan sendirian. Kali ini aku akan share tentang salah satu fun fact yang ada di diriku atau bahkan orang lain juga mungkin punya, yup tentang cucian.      

Sejak 2013 aku menjalani perkuliahan di salah satu universitas swasta di Bandung. Hari-hariku diisi dengan berbagai kegiatan, baik tugas, organisasi, kepanitiaan hingga jualan. Dari senin ke minggu ku usahakan agar hariku lebih terisi eaakk. Tujuannya agar aku tidak terlalu memikirkan masalah hubunganku yang saat itu LDR. Receh banget sih emang, dan ini ampuh untuk membuatku lebih kuat menjalani hubungan yang melelahkan, sampai akhirnya aku bisa menjadi orang yang tak peduli.

Mengisi hari dengan berbagai aktivitas tentu banyak pakaian yang juga harus berganti tiap harinya. Lantas bagaimana dengan pakaian kotorku? Jika teman-temanku sudah tidak sempat mencuci atau bahkan ada yang tidak terbiasa mencuci sendiri, aku berusaha tetap bisa mencuci dengan tangan sendiri. Ini adalah kebiasaan yang diajarkan oleh mamaku agar bisa terus mengurusi diriku sendiri.               

Pernah aku kelelahan mengurusi kegiatan, sedangkan jadwal mencuci adalah hari itu (punya jadwal loh ya hehe) sedangkan besok pagi jam 10 aku harus kuliah. Akhirnya aku menyempatkan cuci pakaian setelah sholat subuh (padahal biasanya malam hmm). Aku bahkan punya persiapan sabun cuci dan pewangi pakaian yang seolah-olah melihatku dengan penuh senyum, mereka cantik sekali.


Aku kadang merasa minder melihat orang lain yang terbiasa dengan laundry, yang bolak-balik laundry dengan membawa berkilo-kilo pakaian kotor hmm. Bukan karena gak punya uang (gak usah ngomong deh kalau masalah duit, Alhamdulillah aku gak pernah kurang hehe), tapi karena aku berkomitmen sama diriku sendiri dan aku bisa. Terkadang sempat terpikir untuk laundry dan itu tidak berlangsung lama.  

Pakaian yang ku jemur tentu harus terkena matahari, ya biar cepat kering kan. Bagaimana jika hujan atau saat aku sedang di kampus? Nah ini, kalau hujan biasanya teman kosanku akan menggeser pakaianku ke tempat yang tidak terkena hujan, tapi kalau sedang tidak ada orang pasrah saja. Sebelum ke kampus, aku mengecek cuaca dulu, bisa saja saat itu aku memindahkan terlebih dahulu pakaian sebelum berangkat karena takut kehujanan. Pernah sekali pakaianku diguyur hujan, finally aku harus mencuci ulang dan it's okay lah.             

Aku bisa mengatur pakaian dari tumpukan pakaian kotor hingga menyusunnya kembali ke lemariku. Rasanya menyenangkan, ada kepuasan tersendiri saat pakaianku bisa ku atur dengan rapi. Jangan tanya masalah bau atau wanginya, Alhamdulillah wangi terus. Sampai sekarang pun aku masih membiasakan mencuci sendiri, menyenangkan. 

Ada cerita unik di balik kebiasaan mencuci ini. Saat aku sidang skripsi, temanku memberikan sabun cuci dan pewangi pakaian (sebagai selempang). Wah ini sih sengaja banget dia, tahu saja kalau aku suka mencuci sendiri. Yang ngasih namanya Nadya, thanks loh, Nad. Kamu memberikan hadiah yang berharga di hari bahagiaku saat itu haha.     
    
Dikasih sabun cuci dan pewangi pakaian Pasca Sidang Skripsi hehe
Saat kuliah, aku menggunakan full kekuatan tangan saat mencuci baju, bahkan saat bekerja di Bandung pun aku masih mengandalkan tanganku. Tapi setelah hijrah ke Kendari, aku membeli mesin cuci, soalnya ada rasa-rasa meger buat full mencuci dengan tangan. Adik-adikku pun belum ada yang laundry pakaian, sejauh ini mereka masih bisa handle sendiri. Kalau kakakku sih dia sempat laundry saat sibuk Co-Ass Dokter, gak konsisten nih hehe, dimaklumi lah ya.          

Apakah aku masuk dikategori rekor tidak pernah laundry pakaian? Aku yakin ada beberapa dari kita yang juga menerapkan ini. Hmm, how about you? đź’™
© WAFER | Blogger Template by Enny Law