Senin, Mei 14, 2018

#CeritaDara - Bertemu Pangeran Bali

         I will introduce my self to you, my name is Darwanti Priscillia. You can call me Dara. Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman bertemu 'Pangeran Bali' di suatu permandian di Sulawesi Tenggara. Mulai dari perkenalan secara tiba-tiba hingga komunikasi yang sudah tak pernah lagi. Sekilas cerita tapi memberi makna.
         Di saat libur lebaran, aku memanfaatkan waktu untuk libur kerja dan pulang ke kampung halaman bertemu keluarga. Selain bertemu keluarga, aku pun menyempatkan untuk berkunjung ke tempat wisata. Alhamdulillah ada ajakan dari keluarga ayahku untuk jalan ke permandian. Kami sekeluarga berkunjung ke permandian tersebut, mengambil beberapa gambar, selfie, wefie dan lain sebagainya. Ikutan bercanda juga sama keluarga, melihat pemandangan yang indah, dan tentunya permandiannya ramai oleh pengunjung yang beragam aktivitas.
         Saat itu aku bertemu dengan Zizi, ponakanku (anak dari Bibi Anis), kisaran umur 8 tahunan. Kami bermain berdua, ia tampak malu-malu saat itu, mungkin karena terakhir ketemu saat 2013 dan Zizi makin cantik dan makin aktif. Tak lama setelah bermain, Zizi pun kembali ke mamanya (Bibi Anis). Setelah makan siang, tiba-tiba Zizi menghampiriku, menarik tanganku, dan berkata 'Kakak, ada kakak sepupuku yang mau kenalan'. Aku langsung tersenyum dan mengajaknya bercanda 'Zizi, jangan bercanda, dek! Kakak mau pulang nih'. Aku tidak terlalu menghiraukannya karena menurutku tidak akan ada cowok yang mengajakmu kenalan lewat seorang anak kecil. Well, aku bersama keluarga langsung balik ke rumah, karena waktu sudah terlalu siang dan akan menuju sore.
         Keesokan paginya, aku mendapat ajakan dari tetangga untuk berkunjung ke sebuah danau terkenal dan hits. Dengan penuh semangat, aku dan adikku Lili langsung bergegas, dan langsung ke rumah tetangga untuk berkumpul sembari menunggu mobil jemputan. Saat itu Lili melupakan sesuatu di rumah, dan ia pun balik ke rumah (jarang rumah tidak terlalu jauh dari rumah tetangga tempat kami berkumpul). Saat kembali ke rumah tetangga, Lili dengan tergesa-gesa memberitahuku bahwa Ibuku ditelpon oleh Bibi Anis. Ibu melarangku berangkat karena cowok yang dimaksud oleh Zizi kemarin akan datang ke rumah untuk bertemu denganku. Aku tak menghiraukannya, karena aku butuh refreshing bukan butuh cowok.
        Selama perjalanan ke danau hits tersebut, Ibu selalu menelponku. Tumben sekali Ibu menanyakanku jam berapa akan pulang ke rumah. Almost tiap 1 jam Ibu selalu menelponku, aku nanya 'Emang kenapa Bu dari tadi nelpon mulu?'; 'Itu, nak. Ada yang mau ke rumah, kenalan sama kamu, cepat pulang ya sayang', kata Ibuku. Aku pulang sekitaran pukul 17.30 dan baru sampai di rumah, Ibu menyuruhku mandi, ganti baju, dan dandan yang cantik. Actually, aku capek saat itu karena memang jalan dari jam 8 pagi, ditambah dengan perjalanan jauh, kondisi jalan yang jelek, membuat badanku serasa remuk. But, aku tetap nurutin kemauan Ibu.
         Saya sudah dandan tipis-tipis, menggunakan gamis hitam bercorak butterfly, menunggu kedatangan cowok tersebut. Dan ternyata datangnya lama banget. Karena malas menunggu, akhirnya aku ke tetangga sebelah untuk silaturahmi. Yuph ke rumah sahabatku, teman kecilku hingga sekarang, her name is Ismi but i called her Ithong. Saat asyik ngobrol, tiba-tiba adikku memanggilku pulang karena cowok tersebut sudah datang ke rumah. Mulailah berdebar-debar jantungku, siapa cowok itu, apa maksud kedatangannya, apakah aku yang menjadi tujuannya dan beragam pertanyaan lain. Huft.
         Oh ini orangnya ya, ternyata dia seorang polisi. Namanya Ricky, ayahnya saudara kandung dengan Papahnya Zizi (suami Bibi Anis), dia tinggal di Bali, mamahnya orang Jawa dan ayahnya orang Sulawesi. Dia ke rumah ditemani oleh Bibi Anis, yuph Bibiku yang gaul. Terlihat malu-malu, sampai akhirnya Bibi Anis nanya ke Ricky 'Yang mana yang kamu maksud di permandian kemarin?'. Ricky menunjuk diriku, OMG,  kok aku sih? Emang aku secantik apa, kok targetnya aku HAHAHA. Dan why saat itu dia menggunakan kaos hitam, samaan dengan diriku. Setelah ngobrol, akhirnya dia pamit dan senyum kepadaku. Ahh malunya.
         Selang beberapa hari setelah ia datang, muncullah SMS dari nomor baru, dan ternyata itu adalah Ricky. Hmm pasti dia dapat nomor HPku dari Bi Anis hehe. Berlanjutlah komunikasi kami hingga saat ia di Bali kami masih lancar komunikasi, dari Line hingga ke Whatsapp. Kami saling bertukar informasi, sepertinya dia tertarik dan menyatakan suka padaku. Tapi tidak dengan diriku, aku menganggap seperti teman biasa karena aku belum tahu seperti apa dirinya. Dan setelah membaca kepribadiannya, ada beberapa hal yang membuatku kurang nyaman. Memang kami terpaut perbedaan usia hingga 3 tahun, wah aku masih ragu untuk masalah ini.
          Dia berkata akan main ke Sulawesi saat diizinkan untuk cuti, tapi aku masih terkesan biasa. Tidak jarang dia memuji fotoku saat aku update di Instagram atau di WA. Dan akhir-akhir ini kami jarang komunikasi bahkan sudah tidak lagi. Semoga ia selalu sehat dan kelak bisa berjodoh dengan wanita pilihan Allah dan sesuai dengan pilihannya juga.
          Terima kasih telah berkunjung ke rumahku, wahai Pangeran Bali. I hope you always be a good man for yourself and for your family. Senang berkenalan denganmu.

Smileyyy
 
Sekian #CeritaDara ❣️ Thanks for reading thisđź’•


Selasa, April 24, 2018

Hampir 2 Periode, Putus!


Bismillah. Mau curhat sebentar nih guys. Tentunya masih seputar kisah percintaan yang berakhir dengan cerita putus. Gak lama kok, hanya 9 tahun kami berhubungan, entah namanya apa. Saya tidak pantas menamainya sebagai masa pacaran, anggap saja hubungan kami dekat.

            Well, saya kenal dia sejak SMP, saat itu saya kelas VIII dan dia kelas IX. Kisah kedekatan kami bermula saat saya 'jatuh cinta' sama matanya yang sipit. Dia keturunan Tionghoa, pintar, pendiam, tidak nakal, juara kelas, putih, tinggi dan gendut saat itu. Kala itu, dia adalah satu-satunya yang membuat saya jatuh cinta dengan umur yang terbilang masih belum pantas pacaran. Cerita perjuangan biar dia bisa 'nembak' sangat panjang, intinya saya yang mengejarnya sampai 'dapat'.


Singkat cerita, kami jadian di bulan Agustus 2008, wow usia saya masih 13 tahun dan mulailah saya berpacaran. Masih menggunakan handphone jadul (tanpa kamera, tanpa musik), hanya lewat SMS dan telepon. Nembaknya lewat HP, kami tidak pernah bertemu langsung, hanya saling mengintip saat apel atau upacara pagi atau sekedar menyapa di kantin. Awalnya backstreet, namun lama-kelamaan  Bapak saya bilang 'Tidak perlu disembunyikan, ajak dia ke rumah'. Finally, dia ku kenalkan ke keluargaku, dia diterima baik tapi saat itu dia masih malu-malu, masih kecil loh HAHAHAHA.



Hubungan kami adem ayem saja, sayang-sayangan lewat handphone, hal apapun diceritakan. Gak pernah jalan-jalan sore atau pagi karena saat itu dia belum bisa mengendarai motor, saya pun tidak berani kalau harus keluar berdua dengan cowok.

Saat lebaran, dia main ke rumah; saat tahun baru, main ke rumah; saat valentine's day juga main ke rumah; bahkan saat anniversary pun kami rayakan di rumah. Dia selalu memberi kado, korban sinetron banget HAHAHAHA. Bapakku sangat welcome sama cowok yang berani mengenalkan dirinya ke beliau, dan dia adalah cowok pertama yang bisa menarik perhatian Bapakku, saat itu:')



Begitu terus sampai saat SMA, dia begitu baik kepadaku. Tapi kami bukan pasangan yang mengumbar kemesraan di sekolah misal makan bareng di kantin, dibawain bunga ke kelas, atau disamperin di kelas, GAK PERNAH. Kami hanya diam-diam saja, tapi satu sekolah tau kayaknya kalau kami pacaran, aneh sih. Tapi.... dia adalah seorang asisten guru Fisika saat itu, jadi nilaiku selalu aman, kan ada dia yang ngajarin. Teman-teman kelas selalu iri kalau nilai praktekku tinggi HAHAHAHA


           Saya sempat terobsesi untuk menjadi seorang paskibra sekalipun fisik masih kalah saing sama yang lain. Hingga suatu hari iseng-iseng ikut seleksi paskibra se-kabupaten Muna waktu kelas X, bersaing dengan 700-an siswa lainnya, Alhamdulillah lolos. Dan dia juga lolos seleksi, jadi kami bertemu lagi di paskibra. Kulit semakin hitam, rambut yang panjang dipotong hingga bawah telinga, pokoknya saat itu saya makin jelek. Tapi dia masih menganggapku sebagai ceweknya, bahkan dia bilang 'Kamu memang jelek dari dulu, kenapa saya suka sama cewek jelek kayak kamu?!'. Makanya jangan pacaran sama yang jelek kayak saya, Mas L  Beberapa orang ketahuan cinlok, dan kami disangka cinlok padahal memang sejak sebelum di paskibra memang sudah pacaran. Dia suka menertawaiku saat dihukum, pasukan 45 memang suka kena hukuman sih, even bukan saya yang salah. Satu salah, satu pasukan di hukum, huft. Kami sempat janjian 'telat' latihan, sampai akhirnya dihukum bersamaan, lari keliling lapangan berdua, romantis ya hmm. Dia bilang 'Mau digendong dek? Masih sanggup?' huhuuu lebai. Sampai malam pengukuhan, hari H dan malam ramah tamah kami masih bersama-sama. Selesai paskibra, saya mulai berhijab, dan alasannya untuk menutupi kulit hitam selama mengikuti paskibra.


Tantangan terbesar adalah saat pertama LDR, dia kuliah di Makassar sedangkan diriku masih kelas XII. Awalnya masih rajin komunikasi, tapi lama-kelamaan malah jarang. Karena saat itu saya terbiasa dengan komunikasi yang sangat jarang, dan saya juga sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional, maka saya tidak terlalu memusingkan hal tersebut, I enjoyed my school life. Dia juga balik ke Raha saat liburan semester, main ke rumah buat ngobrol banyak hal. Kami bukan tipikal pasangan yang harus jalan keluar, atau makan di luar, BUKAN.



Cobaan LDR terbesar adalah saat saya memilih kuliah di Bandung dibandingkan mengambil kuliah di Makassar (saat itu saya lulus SNMPTN di Universitas Hasanuddin). Memutuskan kuliah di Bandung adalah keputusan dari Bapak, beliau tidak mengizinkan kalau saya se-kota dengan pacar saya, saat itu. Pertama kali saya melihat dia menangis, dia memegang tanganku, sepertinya dia tidak sanggup kalau harus pisah jauh dari saya. Bahkan dia tidak mengantarku ke pelabuhan untuk sekedar say goodbye. Saat tiba di Bandung pun dia masih cuek, masih belum menerima. Berat sekali cerita LDR kami.

Selama kuliah, komunikasi kami sangaaaaat jarang, bahkan pernah sebulan sekali saya mendengar kabarnya seperti apa. Saya sempat minta putus, tapi dia tidak mau, oke deh lanjut saja hubungan LDR yang tak jelas ini. Kami bertemu 2 tahun sekali, karena libur lebaran dia jarang pulang. Daaann semenjak kuliah panggilan sayang kami berubah, dia tidak pernah memanggilku 'sayang' tapi 'dek, adik, atau nama biasa'. Dengan kondisi LDR seperti ini, saya mulai menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, organisasi, kepanitiaan yang hampir tiap hari mengisi waktuku. Sampai saya lupa kalau saya punya pacar. Banyak hal yang saya pikirkan dan terlalu menyibukkan diri sehingga istilah pacar itu hilang dari kehidupan saya. Dia wisuda pun, saya tidak dikabari, hingga muncullah inisiatif untuk mengirim kado dan ucapan lewat adiknya. Oke fine. Menyibukkan diri dengan kehidupan kampus adalah pilihan yang tepat untuk melupakan pacar, i enjoyed my campus life.



Saat saya lulus kuliah, saya mulai galau. Rasanya ingin nikah saja HAHAHAHA. Alhamdulillah cuma beberapa hari nganggur, saya langsung diterima kerja di sebuah perusahaan swasta di Bandung, fokus saya langsung pindah ke kerjaan bukan ke urusan nikah lagi hehe. Hanya bertahan 6 bulan, saya langsung memutuskan resign dan memulai kerja di Kendari. Saat saya balik ke Sulawesi, ternyata dia malah kerja di Jawa, haruskah LDR lagi? Sangat sedih.



Dia berusaha untuk kerja di perusahaan tambang, karena memang dia lulusan jurusan Pertambangan. Sudah diterima kerja di Tinanggea (masih daerah Sulawesi Tenggara juga) tapi jauh dari Kendari. Di situ saya sangat antusias untuk bertemu, bahkan sangat semangat menyelesaikan pekerjaan kantor untuk bertemu dia. Kami pun janjian di sebuah mall untuk sekedar nonton. Saat itu kami tidak berdua saja, dia membawa temannya dan ada Lisna adikku yang juga ikut. Di situ saya melihat sikapnya sangat beda, acuh dan tidak peduli kepadaku. Saya tetap mengajaknya ngobrol tapi responnya datar. Ini adalah moment pertama kami nonton bioskop bersama, dia memilih ngobrol dengan temannya dibanding denganku. Saya pun mengajak Lisna ngobrol tentang film yang saat itu sedang ditonton. Yang awalnya saya semangat, jadi sedih karena sikapnya yang berubah. Saya hanya terdiam. Ini pertemuan yang tidak ku inginkan.



Tidak bertahan lama di Tinanggea, dia pun balik ke Jawa, secara diam-diam. Mungkin dia butuh privasi dan saya bukan orang penting untuk diceritakan. Saya pun kecewa. Saat mamanya sakit, dia sempat ke Raha, dan saat dia di Kendari, dia tidak mengabariku, betapa sakit hati saya saat itu.  Saya mulai menyusun kalimat untuk putus, namun dia melarang untuk putus. Saya masih beri kesempatan tapi tidak ada perubahan.



Almost sebulan tidak ada kabar, dia pun meneleponku. Dengan tidak tertahankan, saya mengeluarkan semua uneg-uneg, saya menangis, dan saya minta untuk putus. Awalnya belum menerima dan sepertinya dia sangat tersakiti, dia update di mana-mana kalau dia sedang terluka pasca saya putuskan. Dan akhirnya semua terkesan biasa saja. Akhir Desember 2017, kami pun putus.



We can't guarantee a relationship, kami hanya berusaha. Dan memang sebaiknya kami berhenti untuk yang lebih baik. Jika memang berjodoh, maka akan dipertemukan. Pun sebaliknya, jika tidak maka itu bukan rejeki kami.



Thanks for reading this story, kami sudah menjalani hidup masing-masing dengan bahagia. Saya sibuk dengan kerjaan, dia pun 'mungkin' seperti itu.

Jangan lupa bersyukur, dan jangan pacaran lama ya.... Kalau ada yang serius, langsung nikah saja, luvđź’•

Jazakumullah khoir, syukron đź’•

Sabtu, Maret 10, 2018

Aku Tak Suka Membaca Tapi....



Bismillah. Mengawali coretan di 2018, saya akan sharing tentang apa yang terjadi dengan kebiasaan yang akan membuat orang lain heran, well i said it's a bad behavior, i named it 'malas baca'. Mungkin ada yang berpikiran 'terus selama ini baca apa dong?', 'kalau gak baca, terus taunya dari mana?',and soon. Especially, lebih ke membaca buku kali ya, soalnya facebook, instagram, blog masih saya baca kok. See?

Okey, dan kali ini yang akan saya tekankan adalah 1. Apakah saya suka (baca)? 2. Penyebab saya gak suka? 3. Efeknya apa? 4. Adakah kejadian 'aneh' dibalik kebiasaan gak suka baca ini?. Lets see yaw.




Saya gak suka membaca. Sejak kapan? Sejak kecil saya selalu dibiasakan dengan yang namanya buku, buku dan buku. Bapak saya seorang guru yang almost everyday meminjamkan buku sekolah (perpustakaan tempat beliau mengajar). Tiap semester hampir di setiap mata pelajaran, saya selalu membeli buku penunjang belajar. Dan did you know? Im totally bored dengan buku-buku tersebut. Yang dibahas selalu materi pelajaran. Sampai di suatu saat saya minta dibelikan buku cerita, dan mereka menolak dengan alasan menghamburkan uang untuk selain kebutuhan sekolah. Sedih gak sih di saat kita penasaran dengan buku lain, malah diskakmat? :( Tiap pulang sekolah, saya mengulang-ulang materi TANPA membaca buku penunjang melainkan dari buku catatan yang notabene saya dengarkan dari guru saya, it was amazing because i can imagine what my brain n my heart feelin. Terkadang sesekali saya buka buku penunjang belajar jika ditanyakan oleh Bapak 'materi mana yang susah?'. As usual, pastilah saya menunjuk dari buku penunjang. Saya lebih sayang buku catatan dibanding buku penunjang: disampul rapi, diberi hiasan, diwarnai dan dijaga dengan sepenuh hati. Dan i always remember, buku catatan saya pasti diminta oleh guru, karena beliau akan gunakan sebagai acuan belajar khususnya ke junior saya. Alhamdulillah ya berguna juga. 


Lantas penyebabnya apa saya gak suka baca? Apa karena bosan sama buku penunjang? Oh enggak dong. Actually, orang tua saya sibuk dengan pekerjaan di kantor, dan saya banyak menghabiskan waktu bersama nenek (Alm.). Beliau tidak bisa membaca karena sedikit rabun, pun gak bisa menulis karena tangannya agak kaku. Lalu apa yang beliau terapkan dalam mendidik cucunya? Yuph, you, me or us can named it 'Story Telling'. She was a good story teller. Tiap saat bercerita: tentang kisah pahitnya, tentang manfaat tumbuhan, tentang hewan, tentang anaknya, tentang hantu hingga tentang jika beliau meninggal. Masyaallah, saya jadi rindu beliau. Setiap hari diberikan cerita, cerita dan cerita hingga saya lupa dengan membaca. Saya jadi lebih suka mendengarkan dan bercerita, bukan membaca. 


Hingga sekarang efek yang paling nyata adalah susahnya saya dalam membiasakan baca buku, apalagi berbau fiksi, susah. Saat kuliah, terkadang saya envy jika orang lain membahas buku favoritnya sedangkan saya hanya berdiam diri. Dan saya coba kembali untuk membaca, meminjam buku teman dan buku pertama berjudul 'Long Distance Relationship'. Bukunya sih bukan cerita kontinyu melainkan gabungan dari beberapa pengalaman yang hubungan jarak jauh (dulu gw juga gitu sih, makanya seneng haha). Hasilnya yahh cuma 3 atau 4 part yang dibaca, sisanya enggak. Next, buku 'Udah Putusin Aja - Ust. Felix'. Hmm memotivasi sih cuma rasanya agak berat dan malah bikin pusing kepala. Skip deh bacanya, finally cuma baca sinopsis di belakang bukunya HAHAHA. Pernah diberikan buku Dilan 1990, dibaca sampai halaman 100-an, gak tahan. Skip bukunya deh LOL. Efek nyatanya sih otak ini susah menerima bacaan apalagi berusaha how to imagine it, so hard huft. 


Pernahkah ada kejadian 'aneh' dari kebiasaan ini? Of course! Saya adalah orang dengan tipikal membaca cepat dengan kondisi kepepet, maka dengan sendirinya akan masuk semua yang dibaca tersebut HAHA. Di setiap melaksanakan ujian di kelas, di kampus, di mana-mana pasti gunakan jurus 'cepat jitu'. Alhamdulillah nilai selalu aman: SD juara 1 terus, SMP masuk 3 besar, SMA masuk 5 besar, kuliah lulus CUMLAUDE. Masyaallah! Sempat ada yang bertanya: bagaimana cara belajarnya, bagaimana bisa cepat tangkap, bagaimana cara memahami. Hmm simple sih, cukup niat karena Allah, dibarengi usaha 'cepat jitu' dan minta dukungan orang tua. Terus materi selama ini bagaimana, buku penunjangnya diapakan? Materi selama ini dipelajari dari catatan, dan buku penunjangnya masih tersusun rapi (dibuka sesekali saja LOL). Lantas apalagi yang 'aneh'? Kata orang sih, bisa nulis karena terbiasa membaca. But for me, tidak selamanya seperti itu. Dari story telling pun kita bisa menulis (buktinya ada di diriku sendiri hehe).


So, buat kamu yang mau menanyakan buku kesukaanku, honestly I HAVEN'T! Bukan berarti kamu gak harus baca, oh enggak dong. Kalau suka baca justru lebih bagus, dan oneday saya akan mengajarkan ke anak untuk eksplor dunia melalui buku, Insyaallah. Oiya, kalau mau berbagi cerita boleh ke saya ya, tapi dengarkan juga ceritaku. Kita saling berbagi cerita.

Thanks for reading this unmood page, kritik atau saran boleh juga sih dibagi ke saya ya, jangan yang pedas, saya gak suka pedas hehe apasi garing! And hopefully this will be useful ya. Syukron katsira đź’•đź’•đź’•đź’•



Jumat, November 04, 2016

INIKAH LDR 6 TAHUN?

      Guys, you all know that every time you meet a friend in a long time no see, you will tell anything to her/him, right? So am I. Beberapa hari yang lalu di sela kesibukan dan kepenatan di dunia perkuliahan dan organisasi, saya menyempatkan untuk mengunjungi teman yang sudah sekian lama belum pernah (lagi) saya jumpai. Who’s her? Berapa lama gak ketemu? I will introduce her to you. Her name is Mimin/Mifta/Miftahul Jannah. Almost 6 years we never meet. Wow, apakah karena jauh? Apakah karena kami saling melupakan? Kami kenal di mana? Sedekat apa? I’ll tell you.
Ini nih yang namanya Mimin

       Jika dia dikenal dengan nama Mifta di kampusnya, hmm saya panggil dia “Mimin” seperti saat kami kenalan dulu. Bukan admin Official Account ya…. :D Actually, kami sama-sama perantau yang berasal dari daerah yang sama, what is that? Yuph, Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (bisa disearch di Prof. Dr. Google). Dia adalah teman SMP tapi beda kelas, saat SMA kami terpisah, dia di Kendari dan saya tetap SMA di Raha. Sebenarnya saya sudah tahu dia saat masih SD sih, kami menjadi perwakilan SD masing-masing dalam lomba cerdas cermat saat itu, dia agak lupa sepertinya hiks. Tapi, kami baru diberi kesempaan untuk bertemu setelah 6 tahun berpisah. Lah, kok bisa? Kami masih satu daerah rantau, Jawa Barat. Saya di Bandung (coret) alias Dayeuh Kolot dan dia di Cimahi. Namun apa yang membuat kami susah bertemu? Banyak hal yang membuat saya susah untuk bersilaturahmi ke kosan Mimin.
1st, I can't drive motorcycle
      Pertama, saya tidak punya kendaraan dan tidak bisa mengendarai motor sampai ke Cimahi. Karena pada kenyataannya, yaa gak bisa dan gak berani. Jika teman-teman dari Raha sudah pernah berkunjung atau bertemu Mimin, saya justru belum pernah. Mereka sih gampang ya, punya kendaraan dan bisa ke sana sendiri. Kenapa gak naik angkot saja? Nah, walaupun belum pernah mencoba, tapi saya sudah mencari informasi yang ada di Internet tentang akses ke Cimahi. Angkot tetap ada, namun lebih sulit karena saya pun tidak tahu daerah Cimahi itu sendiri. Khususnya, saya tidak tahu ke tempat Mimin dengan menggunakan angkot. Dan di pemikiran saya, pasti angkotnya berhenti di tempat yang jauh dengan tempat Mimin. That was the first reason why I haven’t met Mimin.

2nd, banyak tugas dan kegiatan
       Kedua, saya masih dipenuhi dengan berbagai kegiatan yang weekend pun tersita untuk fokus ke kegiatan-kegiatan tersebut. Pernah ada rencana untuk bertemu Mimin dan sudah janjian juga untuk ke Cimahi saat weekend. But, lagi-lagi gagal karena kegiatan. Belum lagi tugas, ujian, kuis, presentasi dan segala macamnya. Hm, this was the second reason, so hard but true!

3rd, Mimin sedang sibuk menyusun skripsi
      Ketiga, waktu kami berdua yang selalu tidak bersamaan. Saat saya punya waktu luang, Mimin malah lagi sibuk mengerjakan skripsi. Ciyeee, skripsi dan Desember 2016 wisuda. Nah, ini nih yang kadang bikin nyesek kalau janjian dan waktunya sedang tidak tepat. Makanya, we decide to find another time for meet up. Maybe this was the last reason, guys.
      Lalu, kok akhirnya bisa ketemu? Jadi gini, saya baru teringat kalau punya teman seorganisasi yang asalnya dari Cimahi. Namanya Faldi, dia memang domisilinya dua sih, di Palembang dan di Cimahi. Alhamdulillah saat selesai kegiatan KPM Visit Ke UPI dan Unikom, saya mengajak Faldi untuk berangkat bersama-sama ke Cimahi, saya nebeng ke dia maksudnya hehe. Awalnya sih capek, tapi seandainya gak jai malam itu, mungkin akan susah lagi untuk ketemu Mimin dan kita LDR lagi deh. So sad. Berangkatlah saya dan Faldi ke Cimahi, sambil ngobrol di jalan ternyata rumah Faldi lumayan dekat dengan tempat tinggal Mimin. Alhamdulillah. Faldi mengantarku tepat di depan gang kosan Mimin. Terima kasih Faldi. Dan finally, kami bertemu, yeaayyy! So happy!
        Ketemu dan apa yang kami lakukan? Saat pertama kali ketemu, saya langsung memeluk Mimin. Kangen juga ya. Hm, di kosan Mimin ternyata ada Kanda Mei dan Kak Chintya, tambah rame lah kita berempat. Tapi mereka hanya kerja tugas dan langsung ke Bandung lagi.
      Kami berbagi cerita, makan bersama, pokoknya saya diperlakukan selayaknya tamu istimewa. Saat sarapan, dibuatkan susu dan disediakan roti; makan pun serba ada; dan saya tidak diperbolehkan untuk cuci piring, menyapu dan lain-lain. She’s so kind. Kami juga sempat mengabadikan beberapa moment foto. Ini penampakannya....
Sedikit dari banyaknya foto kami berdua, uhuyy

       Banyak hal yang kami ceritakan, dari urusan kuliah, teman, keluarga, dan pastinya percintaan, ih rempong deh ya. Tapi cerita itu tidak akan saya share di sini, karena semuanya adalah rahasia dan perlu izin dari kami berdua if you want to know it too, haha. Di Cimahi termasuk daerah yang dingin, jauh dari suhu Dakol. Terlebih lagi sering hujan, jadi kami sulit untuk keluar kosan dan memilih untuk nonton dan tidur hehe.
Me & Mimin time
       Saya menghabiskan waktu selama dua malam, dari hari sabtu sampai senin pagi, karena sorenya saya harus kuliah. Ingin berlama-lama di sana sih, karena tempatnya sangat cozy. Finally, saya izin ke Mimin dan pulang ke Dakol bersama Faldi lagi. Keren nih Faldi, udah kayak mamang Goj** haha. Thanks a lot, Mimin. Semoga ada waktu dan kesempatan lagi Insyaallah dan saya akan dating ke Cimahi dan kita bisa agendakan untuk jalan-jalan keliling Cimahi, right? Sukses ya untuk D4-nya, Insyaallah saya bawakan bunga terindah untuk wisudamu nanti. Kita LDR dulu ya sekarang. See you when I see you, luv.
LDR dalam hal teman:) 

Selasa, Oktober 25, 2016

BUKAN PENYANYI WC, DI WC GAK BOLEH NYANYI

Did you know? Saya suka menyanyi sejak kecil (suka yaa, bukan hobi). Tapi banyak orang yang tidak mengetahui tentang anugrah Allah yang satu ini. Why? Kita ulas ya…. Mungkin ini akan dibahas dengan alur maju, mundur, maju mundur cantik….

Saat masuk di perkuliahan, ada satu mata kuliah “Presentation and Public Speaking”. Mata kuliah ini sangat menarik, di mana kita diajarkan untuk berani berbicara, berani menampilkan siapa kita di depan khalayak, berani tampil beda, percaya diri and many more. Salah satu tugas awal saat itu adalah kami diwajibkan untuk menyanyikan lagu daerah di mana kami berasal. That was a challenge, sisstt.. Saya sampai gak bisa tidur, di dalam pikiranku “apa saya harus membawakan lagu Angin Mamiri?, mungkin mereka akan tau; apa saya harus berani nyanyi (lagi)?; apa saya harus memperkenalkan lagu daerah Muna?”. And…. Saya memilih lagu “Tongkuno” yang saya ketik ulang liriknya dan berlatih di kamar kosan.
Mulailah kami menyanyikan lagu satu per satu: ada yang membawakan lagu Jawa, Sunda, Kalimantan, Palembang dan lain-lain. Namun, lagu-lagu daerah tersebut terdengar tidak asing dan beberapa orang di kelas bahkan ikut menyanyi bersama. Nah, how about me? Saat namaku disebut dan dipersilahkan maju ke depan, sontak satu ruangan hening. Dag dig dug dag dig dug. Saya menyerahkan naskah lagu kepada Dosen. Menghela nafas dan mulai menyanyi. Tak ada satu pun suara, mereka memperhatikan dan mendengarkan nyanyianku. You must know that lagu “Tongkuno” aslinya dinyanyikan oleh laki-laki, dan bila diconvert ke suara perempuan hmm…. Nadanya berubah lebih tinggi. Saya terus menyanyi hingga akhir, bahkan reff saya ulangi hingga dua kali. This was out of expectation. Setelah menyanyi, Dosen saya tersenyum dan teman-teman tepuk tangan. Saat saya kembali duduk, ada beberapa teman yang komentar: Itu lagunya bagus banget Wa Ode, judunya apa?; Wa Ode bisa nyanyi?; coba buat Soundcloud dan upload deh biar kita denger. Wahhh Alhamdulillah respon teman-teman hmm…. Not bad lah ya (part 1) J
Did you know? Saya gak pernah merasakan karaoke selama hidup di Raha hehe. Dan suatu saat di Bandung, kami (saya, Rilly, Lita dan Wiwik) jalan ke BIP dan mengunjungi sebuah wahana permainan (lupa namanya apa). Nah, di situ ada box karaoke yang kalau gak salah satu lagu itu Rp3000,- dan hanya bisa muat berdua di dalamnya. That was unique! Saya dari awal menolak untuk ikut karena memang belum pernah karaoke, tapi berhubung ajakan si Lita finally I tried it. Saya dan Rilly memilih lagu dan masuk ke dalam box karaoke. Lagu yang saya pilih adalah “When You Believe-Mariah Carey”. Dan untuk menilai suara saya sendiri, saya pun merekam melalui sound recorder yang ada di Handphone jadul saya hehe. Setelah sampai di kosan, saya ke kamar Wiwik dan memutar rekaman karaoke di BIP. They just said “Itu suaramu, Fer?”. Hmm… Alhamdulillah, not bad lah ya (part 2)J
Saat menjadi maba, saya mendatangi UKM Fair. Ada yang unik, saya melihat booth yang penuh properti not balok dan not angka, namanya IMT Choir. Saya pun diam-diam mengambil formulir dan ikut mendaftarkan diri. Dapat jarkoman SMS untuk seleksi IMT Choir. Mulailah saya mengikuti tahap seleksi satu demi satu, walaupun saya gak mengerti tahapnya apa. Ternyata yang ikut seleksi tersebut ada ratusan orang dari pagi sampai sore, Wow!! Beberapa minggu kemudian, pengumuman siapa saja yang diterima menjadi anggota IMT Choir. Saya dari awal sudah hopeless karena emang gak ngerti apa-apa soal not balok dan not angka. Namun…. The result, accepted as a new member in IMT Choir. Dari ratusan orang pendaftar, ada kurang lebih 40 orang yang masuk dan salah satunya saya. Ini penampakannya hehe.
Pengumuman Anggota Baru IMT Choir
Saat first meet anggota baru IMT Choir, diumumkan pembagian suara. Saya diposisikan di Sopran 2, Alhamdulillah not bad lah ya (part 3) J
Tel-U Choir saat menyanyi di Telkom University Graduation

Pernah juga saya dan beberapa teman iseng-iseng buat group yang bernama “My Second Diary”. Ada Rinda, Eka, Valen dan Hilman. Penyanyinya muslimah tchoyy hehe. But, band ini hanya bertahan selama kepengurusan SEARCH 2015. Kita juga beberapa kali tampil di acara SEARCH. Alhamdulillah, not bad lah ya (part 4)J
My Second Diary Band saat tampil di First Meet SEARCH 2015
Banyak dari teman-teman yang tidak mengetahui kalau saya punya suara yang not bad untuk didengar. Mungkin karena Bapak saya juga dulu sering nyanyi di organ pesta-_-, makanya anaknya juga bisa nyanyi. Sejak SMP hingga SMA, saya tidak pernah menunjukkan diri kalau saya bisa menyanyi. Cause I’m shy till now.
Saat SD kelas 4, saya pernah menjadi perwakilan SDN 19 Katobu untuk mengikuti seleksi paduan suara Kab. Muna yang akan berkompetisi di Kendari. Namun, saya gagal seleksi untuk tingkat kabupaten. Saat kelas 6, saya menjadi dirigen paduan suara SDN 19 Katobu untuk berkompetisi di perayaan HUT RI. Saya juga pernah menjadi penyanyi grup bersama 7 teman lainnya untuk mewakili kompetisi penyanyi grup di HUT RI saat itu. Dan juga, saya beberapa kali menjadi penyanyi Nasyid yang mewakili TPA Hidayatullah. And then, saya pernah menjadi juara satu kompetisi menyanyi solo dalam rangka milad Kharisma English Course, saat itu saingan terberat saya adalah adik saya seniri (Lisna) hoho, Lisna, i was lucky than you, sist!. How amazing experience to show up my voice in that time!
Ini ada beberapa penampakan saya di Youtube dan Soundcloud. Cekidot…..

Youtube


Soundcloud
Listenernya bisa mencapai 3000

Jadi, saya bukan penyanyi WC yang tiba-tiba bisa nyanyi bagus, di WC gak boleh nyanyi nanti jinnya ikut joget haha. I have passed some steps to learn. Namun, untuk saat ini saya masih fokus di kuliah, kegiatan, kepanitiaan dan organisasi, there’s no time to sing a song, maybe sometime if I have opportunity to show up my passion. Would you sing with me? Just kidding. Thank you so much for read this. See you in otner stories, luv!!




Senin, Februari 29, 2016

Must I say “Thanks” for this February?

Bismillah..
Sejenak saya mengembalikan pikiran ke masa-masa di mana saya harus mensyukuri setiap momen yang terjadi dalam hidup saya sendiri. Beberapa dari hasil “flashback” tersebut adalah memikirkan resolusi di awal tahun (apakah telah tercapai atau belum), memikirkan bertambahnya umur, seberapa banyak pihak yang menyayangi personal diri, atau bahkan tentang pikiran romantis. Tapi ternyata baru awal tahun loh, buat memikirkan revolusi yang telah dicapai? Haha.. Oh ya, actually this month (February) I’ve passed my birthday. How about the stories behind this birthday? Must I say “Thanks” for this February?
Februari…. One of my name’s history, “Fe”. Saya harus bersyukur dengan bulan kebanggaanku ini. Momen bertambahnya umur yang mendapatkan ucapan dan doa dari teman-teman, keluarga, senior hingga dosen (as usual birthday, pastilah dapat ucapan :D). Mendapatkan beberapa kejutan kecil-kecilan yang membuat diri saya dihargai oleh orang lain. Siapa sajakah itu? Yuph, from my Club Study (Human Resources) in SEARCH; pengurus KPM 2015-2016; and actually from my “kampreto” friends (Lita, Wiwik, Qinan, Me). I’m so blessed to have you all, guys.
“Semoga lancer kuliah, cepat selesai, dapat jodoh yang baik biar bisa banggakan Mama”. What a touched Statement from my super Angel who makes me strong everyday, “Mama”. Saat mendapatkan sms ucapan tersebut, mulai muncul di pikiran “Wah saya sudah umur 21, apa yang harus saya lakukan buat Mama?”. Kemudian beliau menelepon, dan inti dari pembicaraan tersebut adalah berharap saya Fera yang Mama kenal, tetap sederhana, tidak ada harapan lain selain anaknya sehat di negeri orang, permintaan maaf karena jarang hubungi, dan pastinya tentang pac*r :D (skip saja). Thanks, Mom for your wishes for your daughter.
“Selamat ulang tahun tikus busuk, semoga ko cepat sukses”. Ya Allah ini ucapan ulang tahun macam mana coba haha. Well, this is from my best friend, my best neighbor which we’ve passed TK, SD, SMP and SMA together (ceritanya terpisah karena kuliah:D). Pernah dengar istilah “Sahabat sejati akan dengan lantang berbicara konyol di hadapanmu”? Yuph, itulah yang dilakukan salah satu kurcaci ini. Thanks Ethong :*
Banyak lagi ucapan ulang tahun yang ditujukan kepada diriku ini. Walaupun tidak dapat ucapak dari Kakak (Chily), cause she said that we must not say birthday to others. Untuk lebih lanjutnya, bisa ditanyakan ke beliau yang sednag menjalani Co-Ass di salah satu rumah sakit negeri di Kendari ini. Kayaknya perkara “birthday” akan banyak banget, tapi saya berhenti saja di sini, hehe.
Selain mengenai ulang tahun, saya juga bersyukur akan ‘banjirnya’ tanggung jawab yang diberikan dari organisasi. Pernah di suatu malam saya bermimpi berada di tengah lautan dalam yang mempunyai tiga jalur (jalan). Kondisinya tidak ada daratan lain yang bisa saya tempuh, karena semua jalan berakhir di lautan juga. Saya menangis di simpang jalan tersebut. Tapi saya melihat beberapa teman yang sedang berenang dengan riang di lautan itu, sementara saya sendiri tidak bisa berenang. Mereka berkata “Kak Fera tetap di situ saja, jangan menangis lagi, berjalanlah di tiga jalur tersebut”. What’s the mean? Ternyata pada bulan ini, saya diamanahkan menjadi seorang Bendahara di acara Table Manner KPM, menjadi Sekretaris di acara Donor Darah KPM, dan diajak menjadi divisi Humas di acara JBC SEARCH. Semua yang mengajak saya adalah para junior yang mungkin tergambarkan dalam mimpi, mereka mendukung saya dengan berbagai tanggung jawab. Mereka yakin saya bisa menjalani semua hal tersebut. Tiga tanggung jawab diterima di bulan Februari. Thanks, February.
Di bulan Februari, banyak senior yang menginspirasi saya untuk bisa lulus dengan ‘indah’. Siapa sajakah mereka? Pertama ada Kak Heri. Who’s him? Dia adalah kakak yang selalu setia mendukung apapun yang saya lakukan, selalu bawel di kala saya sakit, kakak yang selalu IPKnya tinggi, dan kakak yang dekat dengan Mama, hahaha. Bulan ini, Kak Heri berhasil menyelesaikan sarjana (ST) dengan predikat cumlaude. Wahh selamat ya kak.. Kedua adalah Kak Selvia. Who’s her? Dia adalah mantan Ketua KPM tahun 2015, kakak yang selalu menenangkan hai di kala kami ‘hectic’ di kepengurusan, kakak yang setia membantu di kala kami kesusahan dan tak tau arah, kakak yang bisa mengendalikan keegoisan kami, dan pastinya kakak paling eksotik dari Papua. Kali ini Kak Selvia dapat skor TOEFL 500an dan IPKnya cumlaude. Wahh, selamat ya Kak atas gelar S.Ikom yang diterima. Kedua kakak ini memberikan motivsi untuk bisa seperti mereka, dan lagi-lagi terima kasih Februari.
Februari memberikan makna dalam hal finance juga loh hehe. Sebagai seseorang yang senang menabung, saya selalu sensitif melihat orang lain yang royal. Jika saya banyak uang jajan seperti mereka, mungkin ¾nya akan saya gunakan untuk mengisi saldo ATM. Tahun lalu saya berkesempatan untuk melunasi sewa kosan dengan uang sendiri. Kok uang sendiri? Tenang, ini hanya menutupi tunggakan di awal, karena nanti akan diganti oleh Mama dan Bapak. Saya melunasinya tahun lalu dan Alhamdulillah bulan ini Mama dan Bapak mengganti uang saya tersebut. Hubungan financenya mana? Bukannya mau sombong, awalnya saldo ATM saya sekitar bla bla bla juta. Dan dengan tambahan uang dari Mama (*bla bla bla juta), jadi saldo ATM saya berubah menjadi *bla bla bla juta. Alhamdulillah sudah bisa di atas *bla bla bla juta di bulan Februari. Harus rajin menabung ya, Fer. (*jumlah uang tidak untuk dipublikasikan:D) Trima kasih, Februari ^_^

Pada dasarnya kita harus mensyukuri setiap waktu yang diberikan oleh Allah SWT. But this February has an awesome moment for my life. Saya mensyukuri setiap kejutan baik berupa rejeki dan cobaan dari Allah, mungkin melalui orang lain atau bahkan langsung ke diri saya sendiri. So, I must say “Thanks” for this February. Thank you Yaa Allah, You gave me a special month in my new age. Alhamdulillah.
© WAFER | Blogger Template by Enny Law